You are here: Daerah Gubernur Terbitkan Instruksi Represi, SAD Kunangan Jaya Ketakutan

Gubernur Terbitkan Instruksi Represi, SAD Kunangan Jaya Ketakutan

PDFCetakEmail

Aksi unjuk rasa ratusan petani di kantor gubernur.(F:Khusnizar)JAMBI – Ketua masyarakat adat Suku Anak Dalam (SAD) Bawah Bedaro, Dusun Kunangan Jaya I, Desa Bungku, Kecamatan Bajubang, Batanghari, Dulhadi menyebut, saat ini warga yang tinggal di wilayahnya ketakutan. Sebab beredar surat pengusiran perambah hutan yang dikeluarkan oleh Gubernur Jambi Hasan Basri Agus (HBA).

Ia menyebut surat itu berisikan perintah kepada bupati untuk melakukan aksi preventif dan represif terhadap warga yang dianggap perambahan, pembakaran, dan penebangan hutan secara ilegal. “Surat itu, adalah intruksi gubernur Jambi yang dibagikan oleh staf PT REKI,” sebutnya. Namun, dia memastikan warganya bukanlah yang dimaksudkan seperti yang di dalam surat tersebut. Menurut Dulhadi, warga SAD yang tinggal di Bawah Bedaro bukanlah pelaku perambahan. “Kami sudah tinggal di sini sejak kakek buyut waktu zaman Belanda. Kami memang tinggal di sini. Kami sudah terbiasa berkebun dan berladang di sini,” klaim Dulhadi.

Dulunya, kata Dulhadi, di lahan yang sekarang menjadi perkebunan Asiatic Persada dan area PT REKI merupakan wilayah kerajaan  yang dipimpin oleh beberapa orang patih dan tumenggung yang dipercayalan oleh Raja Bathin Sembilan. Ketua RT 23 Desa Bungku ini berharap agar lahan yang selama ini sudah menjadi garapan SAD agar dikeluarkan dari konsesi REKI. Sejak REKI datang, warga dilarang berladang dan bersawah. Padahal, dengan berladang dan bersawah SAD bisa memanen padi, ubi, dan bahan makanan lainnya.

“Sejak REKI datang, terpaksa kami bekerja mencari brondol sawit di Asiatic Persada. Dari sana kami mendapatkan uang untuk beli beras atau ubi,” ungkapnya. Hasan, warga SAD Simpang Macan Luar, meminta agar lahan garapan SAD dikeluarkan dari wilayah konsesi REKI kemudian dibuat tanda batas yang jelas. “Kami akan tetap di sini, ini adalah kampung halaman kami,” ujarnya.

Terkait tudingan bahwa di wilayah tersebut banyak warga pendatang, Hasan menjamin tudingan itu tidak benar. “Kalau ada keluarga dari yang ikut kami karena menikah dengan anak kami memang ada, tapi tidak banyak,” ungkapnya.

Reporter : Muhamad Usman

 

comments

Related news items:
Newer news items: