You are here: Daerah PT JSA Digugat Warga ke PN Muarabulian

PT JSA Digugat Warga ke PN Muarabulian

PDFCetakEmail

Garap Lahan Karet, Laporan ke Polisi & Dewan Tidak Digubris  
MUARABULIAN
– Puluhan warga Desa Teluk Leban, Kecamatan Maro Sebo Ulu, Batanghari, mendatangi Pengadilan Negeri (PN) Muarabulian, Kamis (19/4) kemarin. Kedatangan mereka ternyata bukan untuk melakukan unjuk rasa, melainkan ingin menghadiri sidang perdata No. Reg 03/PDT/G/2012/PN/Muarabulian.

Dalam perkara perdata ini, 50 warga Desa Teluk Leban berstatus sebagai penggugat melawan PT Jamin Sawita Abadi (JSA) yang beralamat di jalan Pattimura No 14 Kelurahan Kenali Besar, Kecamatan Kotabaru, Kota Jambi. H Rusli, Ketua Koperasi Leban Rindang Sakti mengatakan, mereka menggugat PT JSA karena telah menyerobot lahan karet milik warga seluas 113,78 hektare. Lahan tersebut mereka klaim sebagai milik warga Desa Teluk Leban hasil imas tumbang hutan tahun 2002. Lalu pada tahun 2004 lahan itu ditanami warga dengan pohon karet sehingga menghasilkan tahun 2010.

Pertengahan 2011 PT JSA yang mendapat izin dari pemerintah menggarap lahan milik masyarakat dan merusak tanaman tumbuh di areal yang dipermasalahkan. Pemilik lahan tidak tinggal diam, mereka mencoba menyurati dan melakukan teguran kepada PT JSA. ‘’Kami sudah menyurati, menegur bahkan meminta perusahaan meninggalkan lahan, tapi pihak perusahaan tidak memberikan tanggapan,” katanya.  Karena tidak digubris, warga melapor ke pihak kepolisian, namun hasilnya nihil. Begitu juga ketika warga mengadu ke Komisi II DPRD Batanghari, harapan warga tetap tidak terakomodir. ‘’Kami sudah bosan, makanya kami sepakat menggugat ke pengadilan. Kami rela membayar pengacara secara patungan untuk memperjuangkan apa yang menjadi hak kami,” katanya.

Acara pemeriksaan perkara perdata dengan agenda mediasi ini digelar sekitar pukul 13.00 WIB. Tampil sebagai ketua majelis hakim, Fahzal Hendri. Di meja penggugat duduk pengacara yang ditunjuk warga Teluk Leban, Santun Sianturi SH MH. Sedangkan di pihak PT JSA diwakili pengacara Damai Idianto SH dari Kantor LBH M Amin SH MH. Fahzal Hendri, selaku ketua majelis hakim menjelaskan, sesuai amanat peraturan mahkamah agung nomor 1 tahun 2008, penggugat dan tergugat dapat menyelesaikan dengan cara mediasi. Penggugat dan tergugat diberi ruang untuk menyelesaikan perkara dengan cara berdamai untuk meminimalisir kerugian.

Tawaran majelis ini disambut baik penggugat dan tergugat. Mereka sepakat untuk menyelesaikan persoalan dengan menempuh jalur damai. Pengugat dan tergugat kemudian menunjuk Wakil Ketua PN Muarabulian Eko Harianto selaku mediator. ‘’Waktu berdamai 40 hari, kalau tidak ada titik temu maka sidang akan kami lanjutkan,” kata Fahzal Hendri, lalu menutup acara persidangan. Usai sidang, Damai Idianto, pengacara PT JSA belum dapat berkomentar banyak. Apalagi dia belum mendengar apa yang menjadi isi gugatan warga. ‘’Yang jelas saya siap menghadapi gugatan warga ini, berdamai juga solusi baik,” katanya. Disinggung mengenai tudingan warga tentang penyerobotan lahan oleh PT JSA, Damai Idianto menyebut hal tersebut tidak benar. Pihak perusahaan dikatakan telah membeli lahan dari warga. Perusahaan juga punya bukti warga menerima uang tersebut. (Reporter:Junaidi)

comments