Memaknai Kembali Peran Pers Melalui Kiprah Ki Hajar Dewantara

- Selasa, 2 Mei 2023 | 20:03 WIB
Herri Novealdi (Metrojambi.com)
Herri Novealdi (Metrojambi.com)

Oleh: Herri Novealdi*

"SEKIRANYA aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Pikiran untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka dan sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda. Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingannya sedikit pun."

Secuplik tulisan berasal dari salah satu artikel yang berjudul Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda). Artikel itu dimuat dalam surat kabar De Express milik Dr Douwes Dekker pada tahun 1913 pada tahun 1913.

Penulisnya adalah Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau biasa dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara. Kepeloporannya dalam pendidikan Indonesia pada era penjajahan Belanda membuat dirinya dianugerahi dengan gelar Bapak Pendidikan Nasional oleh Pemerintah Indonesia.

Risalah Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) yang dicetak sebanyak 5000 eksemplar itu mewakili suara dan kritik dari Ki Hajar Dewantara. Dia tak terima ulah Belanda yang memungut uang dari rakyat Indonesia untuk merayakan kemenangan Belanda atas belenggu penjajahan Prancis.

Belanda dibuat meradang atas terbitnya artikel itu. Tak heran, tak perlu menunggu lama, ketiga pendiri Indische Partij, yakni Ki Hajar Dewantara, Setiabudhi, dan Cipto Mangunkusumo ditangkap dan memilih diasingkan ke Belanda.

Ki Hajar Dewantara adalah satu dari sederet tokoh yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui tulisan pedasnya dan kepeduliannya terhadap rakyat atas penjajahan yang dilakukan oleh Belanda.

Meskipun saat ini lebih dikenal sebagai tokoh pelopor pendidikan, sebenarnya yang tak bisa dipungkiri bahwa dia adalah seorang jurnalis. Dia adalah salah satu tokoh jurnalis perjuangan dengan gaya tulisan khas yang tajam, mengusung semangat patriotisme dan anti kolonialisme, serta komunikatif.

Semasa hidupnya, Ki Hajar Dewantara pernah bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar, antara lain: Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, Poesara.

Gagasan dan gerakan nasionalisme memang tak terpisahkan dengan perkembangan pers di Indonesia hingga saat ini. Bila ditilik dari sejarah, pers menjadi alat utama yang digunakan oleh golongan elit modern Indonesia untuk menyampaikan pesan perlawanan, ataupun menyampaikan kritik terhadap berbagai kebijakan Belanda.

Banyak tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia juga menjadi seorang jurnalis guna menyebarluaskan pemikirannya akan pentingnya perjuangan untuk memerdekakan Indonesia.

Ki Hajar Dewantara salah satunya. Dia sebagai jurnalis yang bukan saja pandai dan mahir menulis, tetapi juga memanfaatkan secara optimal media pers sebagai alat perjuangan untuk membentuk opini publik guna melawan pemerintah kolonial Belanda.

Pers Sebagai Aset Perjuangan

Keberadaan pers dilihat sebagai alat perjuangan tentunya tak hanya berlangsung ketika Indonesia belum merdeka. Sekarang peran itu juga harus terus dilakukan. Meskipun peran peran pers sekarang sudah bertambah.

Halaman:

Editor: Ikbal Ferdiyal

Tags

Terkini

Devil’s Advocate di Satuan Pendidikan

Senin, 25 September 2023 | 09:56 WIB

Hak Milik dan Izin

Selasa, 19 September 2023 | 14:48 WIB

Hukum Alam Dalam Pembelajaran

Selasa, 29 Agustus 2023 | 09:58 WIB

Kemerdekaan dan Sabotase Diri

Kamis, 17 Agustus 2023 | 08:14 WIB

Tafsir 'Bajingan dan Tolol'

Rabu, 16 Agustus 2023 | 09:14 WIB

Lengser Keprabon, Mandig Pandito

Jumat, 11 Agustus 2023 | 10:14 WIB

Black Box Pembelajaran

Senin, 24 Juli 2023 | 08:51 WIB

Perkawinan dan Perbuatan Pidana

Sabtu, 22 Juli 2023 | 17:49 WIB

Izin dan Sertifikasi

Jumat, 7 Juli 2023 | 07:23 WIB

Libur dan Muhasabah Profesional

Senin, 26 Juni 2023 | 10:14 WIB

Guru ‘Bermuka Dua’

Senin, 5 Juni 2023 | 13:51 WIB

Tanggung Jawab Suami

Rabu, 24 Mei 2023 | 18:59 WIB

Resiko Bisnis atau Korupsi

Kamis, 11 Mei 2023 | 20:16 WIB

Media dan Marketing Politik

Minggu, 7 Mei 2023 | 16:37 WIB

Percakapan “Akademik’ Guru

Jumat, 5 Mei 2023 | 16:26 WIB
X