Jumat, 10 Juli 2020

Memperbincangkan Karya Seni Dalam Forum Literasi Tari


Rabu, 11 Desember 2019 | 10:38:52 WIB


Amor Seta Gilang Pratama
Amor Seta Gilang Pratama / Istimewa

PADA malam tanggal 3 Desember 2019, bertempat di gedung Centra Universitas Jambi, berlangsung forum pertunjukan dan diskusi tari dengan nama Literasi Tari #2. Forum yang dimulai sejak pukul 20:00 WIB, menampilkan tiga karya tari, dan setelah pertunjukan, dilanjutkan dengan diskusi terbuka yang membahas karya tari tersebut.

Mendalo Dance Project (MDP) yang memprakarsai forum ini. MDP sendiri merupakan sebuah komunitas tari independen, yang kegiatannya adalah berupa pengembangan kreativitas tentang tari, riset kebudayaan, dan juga membuat ruang pertunjukan serta diskusi karya tari. Forum rutin dua bulan sekali ini Sebelumnya diadakan pada 17 Oktober 2019 lalu di tempat yang sama.

Karya Tari Mengaso, dalam forum Literasi Tari #2 Sumber Foto: Desti Safera

Forum Literasi Tari #2 ini terlihat tidak seramai sebelumnya. Namun demikian, penonton yang hadir tetap antusias menyaksikan dari awal hingga akhir. Pertunjukan pertama diawali dengan karya tari berjudul Mengaso. Karya tari ini ditata secara kolektif oleh Desty Safera dan Putri Rezky, yang mana keduanya adalah mahasiswa Prodi Sendratasik Universitas Jambi. Karya tari Mengaso ingin mengungkap tentang bagaimana keadaan insomnia. Terlihat dari pertunjukannya, para penari banyak menggunakan gerakan-gerakan layaknya orang yang sedang susah tidur, lalu diperkuat dengan ekspresi wajah yang kaku. Musik pengiringnya pun mengadopsi bunyi detik jam, dan semakin mendukung karya tari ini.

Karya tari kedua berjudul Waden yang ditata oleh Nurul Hidayati. Mahasiswi semester tujuh prodi Sendratasik Universitas Jambi ini terinspirasi dari tradisi merantau. Dalam karya tari ini, banyak mengadopsi gerakan-gerakan silat, serta menggunakan properti gelas kaca. Gelas tersebut di letakkan di tangan para penari, masing-masing tangan penari memegang empat gelas, lalu perlahan-lahan gelas-gelas tersebut dibentur-benturkan hingga, praaaang!

Beberapa gelas pecah dan berhambur ke lantai. Namun penari tetap menari walaupun pecahan gelas tadi berhamburan. Ternyata, makna dibalik pecahnya gelas ini adalah tentang sikap kehati-hatian ketika di rantau, serta harus waspada dan jangan mudah percaya dengan keadaan sosial.

Karya tari terakhir berjudul Saat Ini. Karya ini ditata oleh Tri Putra Mahardika atau kerap disapa Dika. Mahasiswa program pascasarjana Institut Seni Indonesia Surakarta ini mengangkat tentang isu lingkungan, khususnya efek dari penggunaan plastik. Secara properti Dika menggunakan bubble wrap berukuran kurang lebih 1,5 x 2,5 meter dan dilekatkan dilantai, serta kantong plastik putih yang dipakai dikepalanya. Dika memulai tarinya dengan berlari dari samping panggung, lalu berjalan-jalan di atas bubble wrap. Bunyi letusan kecil dari bubble wrap menjadi latar gerak tarinya pada bagian awal. Lalu diakhir pertunjukan, Dika menabur-naburkan bedak diatas panggung, sehingga menimbulkan efek wangi, pengap, dan menimbulkan efek debu.

Mendiskusikan Tubuh Dalam Tari
Setelah pertunjukan tari berakhir, acara dilanjutkan dengan sesi diskusi karya. Sebagai moderator adalah Kurniadi Ilham yang merupakan dosen Prodi Sendratasik sekaligus pendiri MDP. Sebagai pembicara adalah Masvil Tomi yang juga merupakan dosen di Prodi Sendrtasik. Masvil melihat ketiga karya tari tersebut sebagai tari eksploratif, dimana penata tari melakukan eksplorasi teks ataupun konteks terhadap karya tarinya. Selain itu, menurut Masvil dalam sebuah karya tari harus menampilkan ‘tubuh-tubuh’ diluar tubuh fisik. Maksudnya adalah, baik penata tari ataupun penari harus sadar dan dapat mengontrol tubuhnya. Ketika diatas panggung tubuhnya bukan lagu tubuh secara fisik, namun sudah harus menjadi tubuh-tubuh sosial, tubuh menjadi medan wacana tiada henti, baik wacana tentang gender, lingkungan, alam, dan lain-lain. Dengan demikian maka medium-medium gerak yang dipilih akan maksimal dan memiliki ‘jiwa’.

Semakin malam, diskusi semakin hangat. Sirkulasi tanya jawab terjadi dengan intens. Saya amati, diskusi mengerucut kearah bagaimana media memiliki peran dalam karya tari, baik itu media gerak, ekspresi, properti, maupun artistik. Saya juga mengamati, ketiga karya yang ditampilkan memiliki pendekatan media yang berbeda-beda. Namun agaknya karya Dika lebih matang dibandingkan kedua karya lainya. Matang maksud saya adalah, bagaimana Dika mampu mengontrol tubuhnya di panggung, mengelola emosi, dan juga pemilihan properti yang menarik, walaupun menurut saya pemilihan propertinya sedikit klise. Kematangan ini mungkin dikarenakan progres kesenimanan. Dika dengan pengalaman menari nasional maupun internasional telah memiliki banyak referensi sehingga berpengaruh terhadap karya seninya. Kematangan yang saya maksud disini juga sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Masvil sebelumnya. Menari bukan hanya sekedar menggerakkan tubuh, tetapi lebih daripada itu. Menari itu memberikan ‘jiwa’ terhadap setiap gerak yang dilakukan.
Forum Literasi Tari ini cukup penting bagi para penata tari maupun penari khususnya di Jambi. Pada acara seperti inilah mereka menunjukan progres atau capaian kesenimanannya. Karena berkesenian itu adalah sebuah proses yang panjang. Kematangan dalam karya seni tergantung bagaimana progres senimannya. Pada forum seperti ini, karya seni khususnya tari dibedah dan dipresentasikan. Publik bebas memberikan tanggapan terhadap apa yang mereka tonton. Disinilah penguasaan konsep bagi penata tari diuji. Apakah memang benar-benar ia menguasai dan melakukan riset ataupun eksplorasi terhadap konsep dalam karyanya tersebut.
Menurut saya karya seni pertunjukan atau dalam hal ini tari, tidak hanya berakhir di atas panggung dan direspon dengan tepuk tangan penonton. Namun setelahnya juga menjadi penting. Efek apa yang ditimbulkan? Isu apa yang disampaikan? Pola pikir apa yang dirubah? Dengan diskusi dan bedah karya seperti pada forum Literasi Tari, karya seni bukan hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi sebuah perbincangan yang serius dan mendalam.

*)Dosen Prodi Sendratasik FIB Universitas Jambi


Penulis: Amor Seta Gilang Pratama
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments