Jumat, 10 Juli 2020

Berkat Tradisi Jaga Jarak Orang Rimba Masih Ada Sampai Sekarang


Rabu, 25 Maret 2020 | 15:57:05 WIB


/ Berkat Tradisi Jaga Jarak Orang Rimba Masih Ada Sampai Sekarang

Willy Marlupi *) 
 
SOCIAL distancing, Tidak melakukan kontak fisik, agar terhindar penularan penyebaran penyakit di kehidupan orang rimba bisa dibilang sudah tradisi.  Jaga jarak dalam konteks ini diatur dalam hubungan sosial sehari-hari yang mereka sebut besesanding, besesandingon, disesandingko.
 
Judul di atas, berkat social distance orang rimba sampai sekarang masih ada atau bertahan, sebenarnya ingin menyampaikan bahwa kearifan lokal orang rimba yang sudah turun menurun itu sudah terbukti mampu sebagai langkah awal secara individu maupun kelompok dalam mengantisipasi penularan dan penyebaran penyakit. 
 
Apakah di orang rimba juga berlaku isolasi terhadap keluarga mereka yang sedang sakit? Au, bonor (iya, benar). Ini satu paket dengan sikap besesanding, besesandingon, disesandingko, itu sendiri.
 
Bagi anggota keluarga yang sedang sakit mereka biasanya terpisah secara tempat dan memperlakukan diri secara khusus. Maksudnya, sikap keluarga atau kelompok dalam konteks ini seperti sudah panggilan dan kesadaran di tengah hubungan sosial komunitas.
 
Misalnya, mereka yang sedang flu atau batuk, secara sadar tidak menyambangi anggota keluarga atau kelompoknya yang masih sehat. Bahkan, si sakit biasanya akan menginformasikan dirinya itu sedang sakit biar yang lain tahu, supaya yang lain jangan deket-deket dulu, biar bisa saling menjaga, kira-kira seperti itu. 
 
Mereka yang sakit biasanya dengan sadar tidak akan menggunakan jalan atau fasilitas umum yang dilalui, digunakan oleh keluarga dan kelompoknya, dia akan menggunakan jalan yang lain. Selain sudah membuat tempat tinggalnya sendiri (terpisah)  mereka biasanya kembali bergabung jika si sakit sudah betul-betul merasa sehat. 
 
Apakah sikap besesanding, besesandingon, disesandingko, hanya berlaku di internal mereka? Tidak! Sikap dan perlakuan ini berlaku untuk semua, Internal dan ekternal, Ke mereka dan masyarakat luar.
 
Contohnya ke saya sendiri, sekalipun saya kenal baik, punya hubungan baik 20 tahun ini dengan mereka tetap diperlakukan sama. Tidak ada yang istimewa. 
 
Begitupun dari saya sendiri, Karena sudah tahu ada ketentuan seperti itu di mereka maka saya akan menunda menemui mereka jika kondisi saya sedang dalam keadaan sakit.
 
Pesan kesadaran seperti inilah yang saya tangkap dari kearifan lokal tersebut agar kita tetap saling menjaga.
 
Apakah cuma besesanding, besesandingon, disesandingko, upaya proteksi komunitas ini untuk terhindar dari penyebaran penyakit? Tidak.  
 
Besesanding, besesandingon, disesandingko, itu mereka lakukan ketika salah satu orang diantara mereka ada yang sudah sakit. 
 
Jika mereka dalam keadaan bungaron atau sehat-sehat saja, langkah awal di hubungan sosial dengan orang yang sudah lama tidak bertemu ada perlakuan awalnya juga. 
 
Misalnya, Ketika saya selaku orang luar datang ke lingkungan mereka di hutan sana yang pertama dilakukan sebelum memasuki ladang, huma pekarangan mereka, saya harus besesalung dulu yaitu semacam salam yang diucapkan dari jarak tertentu. 
 
Uuuoooooouuiiiiiit... 
Uuuoooooouuiiiiit.... 
Teriakan ini diucapkan sekeras mungkin dan berulang hingga ada jawaban dari mereka. 
 
Dari situ kita dan mereka akan sama-sama mengetahui bahwa ada orang yang ingin bertemu dan dari situ juga akan diketahui yang menjawab salam kita laki-laki atau perempuan, anak-anak atau orang dewasa. 
 
Besesalung dimaknai sebagai salam pembuka atau permisi ketika ingin memasuki pekarangan atau kontak sosial dengan komunitas. Jarak besesalung ini berkisar 40 - 50 meter. 
 
Apakah ketika sudah ada jawaban kita bisa masuk begitu saja ke huma pekarangan mereka? Jangan! 
 
Kita tetap menunggu di tempat kita besesalung itu, wait and see, hingga ada yang datang dari mereka. 
 
Ketika mereka datang menemui kita hingga dalam jarak pandang tertentu katakan 20 - 25 meter, biasanya kita akan di screning dulu secara alami oleh mereka. 
 
Screning alami yang di maksud dalam jarak pandang tersebut mereka akan menatap kita dengan sungguh-sungguh terkait kondisi fisik kita. Apakah ada bersin-bersin, batuk, menggigil, pucat, terluka atau baik-baik saja, proses scren alami ini berkisar 2 - 3 menit.
 
Apakah itu sudah cukup? Belum. 
 
Kita selanjutnya diuji lewat dialog melalui pertanyaan pembuka apo mikae becenengo guing? (Kawan, Kamu tidak sakit kan?) Nah, kualitas suara dan jawaban kita pada saat itulah yang akan menentukan, Apakah kemudian kita bisa kontak langsung atau jaga jarak, Apakah kita bisa satu lintingan rokok atau disesandingko.
 
Begitulah, secuil tradisi yang masih hidup di komunitas adat Orang Rimba Jambi atau yang dikenal dengan Suku Anak Dalam sebagai langkah kongkrit komunitas dalam mengantisipasi penularan dan penyebaran penyakit. 
 
Melalui screning alami, uji kejujuran, besesanding atau jaga jarak, terpisah atau karantina, terbukti turun temurun mampu mencegah penularan-penyebaran penyakit hingga sekarang masih berlangsung ditengah masyarakat kita, di kehidupan Orang Rimba yang terkadang di kategori bangsa primitif itu.
 
Kisah ini saya sampaikan semata-mata untuk berbagi bahwa himbauan dunia atau pemerintah dalam mencegah Covid 19 melalui screning suhu, sosial distancing, isolasi atau dirumah aja, sebenarnya kearifan lokal masyarakat kita yang sudah terbukti bisa mempertahankan kehidupan suku ditengah rimba sana sekalipun jauh dari sentuhan sarana layanan kesehatan dan berbagai macam vaksin.
 
 
*) Pemerhati Orang Rimba Jambi.

Penulis: Willy Marlupi
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments