Sabtu, 6 Juni 2020

Covid-19, Social Distancing dan Physical Distancing


Senin, 06 April 2020 | 13:35:12 WIB


Suci Dwi Setiawati
Suci Dwi Setiawati / istimewa

Oleh: Suci Dwi Setiawati

SAAT ini dunia tengah dihadapkan dengan munculnya penyakit baru yang disebut dengan penyakit COVID-19. Penyakit ini disebabkan oleh virus corona jenis baru (SAR-CoV-2) yang bermula di Wuhan, Tiongkok.

Dikutip dari Tribunnews.com (Sabtu, 4/4/2020), Data dari global yang dikeluarkan Pusat Studi Virus Corona Universitas John Hopkins menunjukkan korban meninggal akibat Covid-19 di dunia menembus angka 60.000, Sekarang sekurangnya 1,4 juta penduduk di planet ini terinfeksi virus mematikan ini. Sedangkan di Indonesia, 2.092 jiwa positif, 150 jiwa yang sembuh, dan 191 yang jiwa meninggal (Covid19.GO.ID). Angka ini kan bertambah terus seolah tak kan ada ujungnya.

COVID-19 telah resmi ditetapkan sebagai pandemi global oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Istilah pandemi merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan tingkat penyebaran penyakit bukan untuk menunjukkan tingkat keparahan penyakit. Kondisi tersebut tentu tidak boleh diremehkan begitu saja sebab hanya ada beberapa penyakit saja sepanjang sejarah yang digolongkan sebagai pandemi.

Dalam mengatasi COVID-19 , WHO telah mengeluarkan instruksi untuk memerangi penyeberan virus ini. Salah satunya adalah social distancing yang tengah ramai sosialisasikan ke seluruh masyarakat Indonesia. Namun, pada 20 Maret 2020 istilah ini diubah menjadi physical distancing oleh WHO. Social distancing menurut Center for Disease Control (CDC) adalah tindakan menjauhi segala bentuk perkumpulan, jaga jarak antar manusia, dan menghindari berbagai pertemuan yang melibatkan banyak orang. Dalam hal ini merupakan bentuk usaha non-farmasi untuk mengontrol penyebaran infeksi atau wabah, seperti yang terjadi saat ini, yaitu wabah COVID-19. Cara ini tentunya efektif sekali sebab dapat mengurangi penyebaran COVID-19 yang terjadi lewat droplet.

Ada banyak sekali cara yang dapat dilakukan untuk menerapkan social distacing, diantaranya adalah dengan membatasi kontak muka atau tangan serta dapat melakukan pekerjaan secara daring atau menghindari keramaian. Namun, saat ini istilah social distancing diganti frasanya menjadi physical distancing.

physical distancing juga merupakan salah satu cara untuk mencegah penyebaran virus korona dengan cara menjaga jarak fisik dan memastikan penyakit tidak menyebar. Alasan istilah social distancing diubah dikarenakan menurut WHO istilah tersebut tidak tepat. Berbeda dengan social distancing, dengan istilah physical distacing orang-orang diharapkan tetap berhubungan social dengan bantuan teknologi.

Dikutip dari Dr Maria Kerkhove, seorang ahli epidemiologi WHO, laman IFL Science bahwa dengan physical distacing tersebut WHO ingin orang-orang tetap tehubung. Dan diharapkan orang-orang dapat menemukan cara untuk tetap terhubung secara sosial, misalnya dengan media sosial. Sebab kesehatan mental juga sama pentinnya dengan kesehatan fisik.

Namun, manakah yang lebih efektif diantara dua istilah tersebut? Menurut sudut pandang penulis, kedua istilah yang tengah ramai di khalayak umum tersebut mempunyai kelebihannya masing-masing. Istilah baru yang dikeluarkan oleh WHO, physical distancing sangat tepat diterapkan dalam pecegahan penyebaran COVID-19. Sebab dengan istilah ini kita hanya dituntut untuk menjaga kontak fisik atau jarak fisik bukan jarak sosial atau interaksi sosial. Hal tersebut dikarenakan manusia merupakan makhluk sosial dan tidak dapat terlepas dari interaksi sosial, baik secara langsung maupun dengan media sosial.
Namun terlepas dari tepatnya penggunaan istilah physical distacing, penulis mencoba untuk memberikan dari sudut pandang yang berbeda. Bahwa, akhir-akhir ini marak sekali kejadian penyeberan berita hoax yang sebenarya hal tersebut juga dapat mengganggu kesehatan mental seseorang.

Hal lainnya adalah banyak sekali berita-berita peningkatan jumlah kasus kesakitan dan kematian yang disebarkan oleh media dibanding berita tentang kesembuhan dari penyakit tersebut. Beberapa orang seringkali merasa tertekan akibat penyebaran berita yang terkesan menakut-nakuti, sehingga menyebabkan beberapa kondisi seperi tertekan, stres serta depresi. Terganggunya kesehatan mental tentunya juga akan berpengaruh pada kondisi imunitas tubuh seseorang dan bukan tidak mungkin dapat dengan cepat menurunkan imunitas seseorang.

Dalam hal ini, penggunaan istilah social distancing lah yang penulis anggap sangat tepat. Dengan menerapkan social distancing seseorang dapat membatasi jarak fisik serta jarak sosial dengan orang lain serta dapat memfilter informasi yang tidak ingin dilihat. Seseorang dapat membatasi interaksi nya di media sosial yang seringkali menyajikan banyak informasi. Penulis sebagai mahasiswa yang mendalam ilmu kesehatan berpendapat bahwa penggunaan istilah social distancing ataupun physical distancing merupakah hak setiap individu. Pada intinya yang perlu diperhatikan adalah untuk tetap menjaga jarak atau kontak fisik dengan orang-orang, sesuai imbauan dari pemerintah dan pihak kesehatan.

Sebab tujuan dikeluarkan istilah ini adalah untuk mencegah laju penyebaran penyakit COVID-19. Semoga kita bisa tetap sehat dan terlindung dari wabah COVID-19 dan kita bisa kembali beraktifitas normal sebagaiamana biasanya, tabik.

*) Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas


Penulis: Suci Dwi Setiawati
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments