Sabtu, 6 Juni 2020

Corona dan Pembelajaran Holistik


Kamis, 09 April 2020 | 12:52:12 WIB


Amri Ikhsan
Amri Ikhsan / istimewa

Oleh: Amri Ikhsan

DI TENGAH merebaknya covid-19, Mendikbud Nadiem Anwar Makarim menyiapkan lima strategi untuk menjalankan pembelajaran holistik demi mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia yang unggul.

Kelima strategi itu adalah: 1) transformasi kepemimpinan sekolah. Strategi ini dilakukan dengan memilih generasi baru kepala sekolah dari guru-guru terbaik; 2) transformasi pendidikan dan pelatihan guru; 3) mengajar sesuai tingkat kemampuan siswa; 4) standar penilaian global. Asesmen Kompetensi Minimum (AKM); 5) kemitraan daerah dan masyarakat sipil. (Kemdikbud, 03/04/2020)

Diharapkan, strategi ini merupakan entry point bagi pembenahan pendidikan Indonesia secara komprehensif dengan ‘memanfaatkan’ momentum covid-19, dimana pendidikan Indonesia ‘berhenti bernafas’ sementara menjelang reda penyebaran virus ini, walaupun sekolah diminta untk menyelenggarakan pembelajaran daring.

Disambut dengan ‘suka cita’ strategi ini. Dirasakan kelima poin itu masih cukup luas dan memakan waktu yang relative lama untuk mengaplikasikannya, padahal kualitas pembelajaran itu berada di ruang kecil, yaitu ruang kelas, benahi saja ruang kecil ini, kualitas pendidikan Indonesia akan meningkat. Cuma ada 2 (dua) orang ‘biasa’ diruang kecil itu: guru dan siswa dan cuma ada 1 (satu) kegiatan: proses pembelajaran (selanjutnya disingkat PP). “Tolong gembirakan” kedua orang ini dan tolong mantapkan proses ini, insya Allah pendidikan kita akan melangkah ke arah yang lebih baik.

Tentu banyak cara untuk mewujudkan hal ini. Secara konkrit, kita, khususnya guru, harus banyak belajar dari tokoh tokoh yang sudah berhasil dan sukses dalam mengelola dan melaksanakan ‘PP-nya’, hasilnya diakui oleh masyarakat bahkan diakui oleh dunia.

Oleh karena itu, sangat direkomendasikasi guru untuk mencontoh cara Nabi Muhammad dalam ‘mendidik’ (pembelajaran profetik). Bahkan, Michael H. Hart (non-muslim) menempatkan Nabi Muhammad Saw. di urutan pertama daftar 100 tokoh paling berpengaruh dalam sejarah dunia.

Nabi SAW berhasil menjalankan kurikulum berkarakter bukan karena sistem pendidikan modern, berteknologi tinggi, hebat, ilmiah, melainkan karena kepribadian dan keteladanannya dalam mendidik. Beliau mendidik siswanya dengan cinta sepenuh hati, kata dan perbuatan nyata terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan profetik yang diteladankan Nabi SAW merupakan model pendidikan paling jitu yang tetap relevan untuk di zaman kekinian. Pendidikan profetik dibangun berlandaskan nilai-nilai ketuhanan (akidah tauhid yang benar), nilai-nilai kemanusiaan (simpati, peduli, menghargai perbedaan, menghormati kebinekaan), dan nilai-nilai akhlak mulia (jujur, amanah, sabar, baik hati, ikhlas berbagi) (Wahab).

Pembelajaran profetik yang diteladankan Nabi SAW bukan terletak pada laporan administrasi, kehadiran maksimal dan penilaian atasan yang kadang kadang membatasi dan menghambat tumbuhnya kreativitas, tapi terletak pada figur teladan sebagai sumber inspirasi dan motivasi dalam mewujudkan PP bermutu.

Pendidikan profetik tidak mementingkan finger print, PKG untuk menilai kinerja, lebel sekolah unggul, sekolah berakreditasi, sistem pendidikan ini terintegrasi dan terkoneksi dengan muraqabatullah (merasa diawasi oleh Allah langsung) sekaligus taqarrub ila Allah (pendekatan diri kepada Allah).

Idealnya guru mempertimbangkan 7 (tujuh) ayat tentang karakteristik pembelajaran profetik yang akan melenjitkan prestasi dan karakter peserta didik dalam rangka mewujudkan pembelajaran holistic yang diadaptasi dari Mujtahid, 2011:

Pertama, shidiq (jujur), mengedepankan integritas moral (akhlak), satunya kata dan perbuatan. Guru yang "shiddiq" selalu bekerja pada kebenaran, tulus, adil, serta menghormati kebenaran yang diyakini pihak lain, bukan merasa diri atau pihaknya paling benar.

Dalam PP, dia jujur menggunakan model, disain, pendekatan, strategi, metode, prosedur, tehnik, taktik sesuai dengan karakteristik materi pembelajaran. Dia jujur dalam merencanakan PP ‘dengan keringat sendiri’, melaksanakan PP juga ‘dengan keringat sendiri’. Dia juga jujur dalam menilai: hebat dibilang hebat, gagal dibilang gagal bukan sebaliknya. Dia tidak pernah menilai siswa dengan membanding ilmu yang dia miliki dengan ilmu siswa.

Shidiq dalam menghubungkan bahan ajar, keadaan siswa, sarana prasarana, waktu, dan kondisi. Shidiq menentukan cara guru (atau siswa) memilih materi yang paling bermanfaat bagi kehidupan. Jadi, guru yang jujur tidak sekedar berbicara, berwacana tanpa adanya bukti yang nyata.

Kedua, amanah. mengutamakan nilai-nilai tanggungjawab, dapat dipercaya, dapat diandalkan, jaminan keberhasilan, profesional dalam melaksanakan tugasnya. Dalam PP, guru dipercaya, diandalkan karena dia selalu memberi yang terbaik untuk siswanya, selalu bertanggung jawab atas beban kerja yang diberikan dan kerjanya selalu memuaskan semua pihak.

Dengan amanah yang tinggi, siswa (dan orang tua) memiliki keyakinan yang tinggi untuk “menyerahkan” masa depannya kepada guru. Karena diyakini, guru selalu bersikap konsekuen, konsisten (istiqamah), sepenuh hati, bersungguh-sungguh, penuh loyalitas dan dedikasi, mengamalkan tugas dan pekerjaan yang disandangnya, bahkan mengembangkan produktivitas dan kinerjanya secara maksimal.

Ketiga, tabligh. berinteraksi dan berkomunikasi dengan efektif, memiliki visi, inspirasi dan motivasi yang jauh ke depan. Dia ‘orator’ sejati, bahasanya simple, santun, mudah dipahami, diamalkan, dan dialami oleh siswa. Apa yang disampaikan kepada siswa selalu menjadi motivasi untuk belajar.

Dalam PP, selalu menyampaikan ajaran dan kebenaran, membangun komunikasi yang baik, mampu berinteraksi secara positif, mampu membangun jaringan dengan pendekatan tertentu yang penuh dengan strategi dan taktis demi mencapai tujuan sebagai bekal sebagai kecakapan hidup masa depan.

Keempat, fathanah (cerdas). punya kecerdasan majemuk: intelektual, emosional dan spiritual. Guru ini tidak pintar tapi cerdas. Guru ini adalah pemimpin pembelajar, mampu mengambil hikmah dari pengalaman, percaya diri, cermat, inovatif dan bermotivasi tinggi. Setiap kata yang keluar dari ‘mulut’ guru selalu menginspirasi siswa untuk berkarya bukan mematikan kreativitas siswa.

Guru ‘wajib’ cerdas’ yang dijaminkan kepada setiap siswa dan orang tua. Guru berkemampuan untuk berpikir level LOTS, ataupun HOTS sesuai dengan konteks, dalam rangka mengoperasionalkan PP dan melatih kognisi anak.

Kelima, istiqamah (konsisten). berprinsip selalu ingin berubah kearah yang lebih baik. Guru yang istiqamah adalah guru yang taat peraturan, tekun, disiplin, pantang menyerah, bersungguh-sungguh. Kalau ada siswa yang belum mengerti dengan materi pelajarannya, dia tidak akan menyerah, dia akan mencari metode lain untuk membelajarkan siswa itu.

Keenam, ijtihad. selalu berfikir, menguras tenaga, mengerahkan segala kemampuan, mengerjakan sesuatu dengan segala kesungguhan untuk mengerjakan sesuatu yang sulit (Al-Hajibi). Setiap kasus yang terjadi selama PP dijadikan media baginya untuk berijtihad mencari solusi terbaik dalam membelajarkan siswa. Guru itu tidak melihat sebuah masalah dengan ‘kasat mata’, tetapi dia melihat dengan kacata ilmiah, dia seorang peneliti sejati.

Ketujuh, muhasabah (intropeksi diri). berprinsip tulis apa yang dikerjakan dan kerjakan apa yang ditulis dalam rangka menjadi bahan untuk intropeksi diri. Dia selalu belajar dari kesalahan dan tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Dia bermuhasabah dan berpikir kritis untuk mencari alternatif melenjitkan prestasi siswa.

Pembelajaran holistic bisa disandingkan dengan pembelajaran profetik, karena manusia pada umumnya suka meniru. Dalam pendidikan, mari meniru yang baik, meneladani yang baik baik. Semoga bermanfaat!

*) Penulis adalah Pendidik di Madrasah


Penulis: Amri Ikhsan
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments