Sabtu, 15 Agustus 2020

1.885 KK SAD Tak Miliki Rumah, Arief Munandar: Terkendala Ketersediaan Lahan


Jumat, 10 Juli 2020 | 16:46:20 WIB


Ilustrasi
Ilustrasi / Istimewa

JAMBI - Sekitar 1.885 kepala keluarga (KK) Suku Anak Dalam (SAD) di Provinsi Jambi belum memiliki tempat tinggal. Hal ini diketahui berdasarkan data di Dinas Sosial Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dinsosdukcapil) Provinsi Jambi.

Kepala Dinsosdukcapil Provinsi Jambi Arief Munandar mengatakan, kendala yang dihadapi untuk memberikan bantuan tempat tinggal kepada SAD tersebut adalah ketersediaan lahan. Meski pihaknya selalu mengajukan bantuan rumah untuk SAD.

"Makanya kita minta kepada Kabupaten yang memiliki SAD untuk mengusahakan lahan, supaya kita bisa ajukan bantuan tempat tinggal ke pusat. Tapi kalau tanah tak tersedia kita mau bagaimana," ujarnya, Jumat (10/7/2020).

Sementara pada tahun 2020 ini provinsi Jambi mendapat bantuan rumah untuk SAD sebanyak 24 unit, yang diperuntukkan untuk warga SAD di Kabupaten Sarolangun. Jumlah bantuan ini menurut Arief jauh menurun dari tahun-tahun sebelumnya.

"Saat ini bantuan rumah itu dalam proses persiapan pelaksanaan, barulah penyusunan perencanaan. Dan Alhamdulillah anggaranya tidak direlokasi untuk covid," bebernya.

Arief pun optimis rumah tersebut akan terselesaikan akhir tahun ini, sebab hanya ada 24 unit rumah. "Insya Allah tekejar karena cuma sedikit cuma 24 unit rumah, dan rumahnya juga rumah sederhana bangunan semi permanen ukuran 36," imbuhnya.

Sedangkan untuk menjamin para SAD tersebut apabila dibangunkan rumah dan tidak akan meninggalkan rumah yang telah diberikan itu, pihak Dinsosdukcapil sendiri sudah melakukan penjajakan dari awal. Bahwasanya mereka yang mendapatkan rumah adalah mereka yang benar-benar membutuhkan.

Untuk diketahui, tahun 2017 bantuan pembangunan rumah SAD berjumlah 28 rumah, lalu 2018 112 rumah dikabupaten Tebo namun tidak terselesaikan yang akhirnya bantuan tersebut dianggap hangus. Kemudian tahun 2019 ada 60 rumah dan tahun 2020 ini hanya 24 rumah.


Penulis: Rina
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments