Sabtu, 19 September 2020

Psikososial dan Komunikasi Pembelajaran


Jumat, 24 Juli 2020 | 11:05:43 WIB


Amri Ikhsan
Amri Ikhsan / Istimewa

Oleh: Amri Ikhsan

PESERTA didik (baca-siswa) merupakan salah satu pihak yang paling terdampak dari wabah pandemi Covid-19. Terjadi perubahan pada aktivitas sehari-hari bagi siswa ini tidak hanya berdampak pada aspek fisik mereka saja, namun juga pada aspek kesehatan jiwa karena perubahan-perubahan tersebut terjadi dalam waktu yang cukup cepat.

Salah satu dampak dari pandemi pada siswa adalah adanya pembatasan sosial yang diterapkan oleh pemerintah untuk mencegah potensi penularan virus Covid-19. Pembatasan sosial ini membuat muncul rasa takut yang berlebihan pada siswa karena banyaknya informasi yang mereka terima tentang pandemi ini.

Selain itu, pembatasan sosial juga membuat siswa merasa bosan karena harus berdiam diri di rumah dan tidak bisa berinteraksi dengan teman-temannya. Berdiam diri bagi siswa dirumah dalam waktu yang relatif lama bukanlah hal yang disukai siswa apalagi dalam suasana yang tidak menentu.

Biasanya mereka belajar dengan gembira disekolah, sekarang terpaksa belajar dalam kondisi tidak biasa Belajar Dari Rumah (BDR) dalam suasana yang sedikit ‘mencekam’ akibat covid-19. Pada usia mereka seharusnya mereka bebas bermain dengan teman temannya, sekarang dipaksa tetap dirumah dengan alasan ‘physical distancimg’.

Seharusnya mereka bertemu dengan guru guru dengan penuh kehangatan, sekarang harus bertemu jarak jauh kadang kadang tanpa kehangatan, tanpa canda tawa. Biasanya tugas dikerja diawasi oleh guru, kalau ada yang belum mengerti bisa berkomunikasi langsung, atau berdiskusi dengan teman, tapi sekarang harus dikerjakan sendiri dirumah.

Dalam hal tugas dikerjakan di sekolah, biasanya guru mempertimbangkan waktu yang tersedia, berbeda dengan kalau tugas yang dikerjakan dirumah, dilaporkan tugas yang dikirim guru ‘melebihi’ dari kemampuan dan waktu siswa, sampai meminta bantuan orang tua, kadang kadang guru mengirim tugas ‘sekendak hati’. Begitu juga dalam HP, di sekolah siswa dilarang ‘keras’ membawa HP, tapi malah sekarang ‘diwajibkan’ menggunakan HP, suatu perubahan yang cukup drastis

Harus diakui bahwa ada ketidakmerataan akses terhadap fasilitas pendukung untuk pembelajaran daring maupun luring yang dialami pada siswa. Sebanyak 68 % siswa dapat mengakses terhadap fasilitas pendukung selama masa pembelajaran namun juga terdapat 32 % siswa bahkan tidak mendapatkan program belajar dalam bentuk apapun (BNPB).

Dampaknya siswa harus mempunyai sistem belajar sendiri dan 37 % siswa tidak bisa mengatur waktu belajar, lalu 30 % siswa kesulitan memahami pelajaran, bahkan 21 % siswa tidak memahami instruksi guru (BNPB). Tentu ini menambah beban psikologis siswa.

Tidak dapat dipungkiri, pandemi ini juga dapat berdampak kepada aspek psikososial siswa di antaranya adalah perasaan bosan karena harus tinggal di rumah, khawatir tertinggal pelajaran, timbul perasaan tidak aman, merasa takut karena terkena penyakit, merindukan teman-teman, dan khawatir tentang penghasilan orangtua. Dampak paling membahayakan adalah sebanyak 62 persen anak mengalami kekerasan verbal oleh orang tuanya selama berada di rumah. (BNPB)

Pembatasan jarak fisik (physical distancing) dan kondisi serba tidak pasti akibat pandemi Covid-19 akan membuat kita kian rentan akan masalah psikososial (Subandrio), yaitu hubungan antara kesehatan mental atau emosional seseorang dengan kondisi sosialnya. Istilah psikososial merupakan gabungan antara psikologis dan sosial (Erikson).

Masalah psikososial merupakan masalah psikologis dan sosial yang dialami seseorang, yang dapat mengganggu kesejahteraan fisik dan mentalnya serta mengganggu kemampuan orang tersebut untuk menjalankan fungsinya. Beberapa contohnya adalah kecemasan, depresi, dan masalah keluarga (Syarief).

Peran guru di tengah pandemi sangat menentukan. Tugas guru dalam konteks ini adalah membangun motivasi siswa dan tetap arahkan untuk menjaga kesehatan, guru juga dapat memberikan motivasi kepada siswa untuk terus semangat belajar meskipun dari rumah.

Kemudian, membuat senang siswa selama BDR. Jangan jadikan momen BDR ini dengan memberikan banyak tugas kepada siswa, ini akan membuat siswa stres dan merasa terbebani ketika belajar dari rumah. Buat pola pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna. Siswa biasanya merasa lega jika dapat mengungkapkan dan mengomunikasikan perasaan tidak nyaman di lingkungan yang aman dan mendukung.

Untuk itu, dalam proses pembelajaran untuk mengurangi beban psikososial siswa, saatnya guru menerapkan prinsip kerja sama (YULE 1996: 36-37). Pertama, maksim kualitas: usahakan materi pembelajaran benar sesuai kurikulum: a) jangan mengatakan sesuatu yang diyakini salah; b) jangan mengatakan sesuatu yang tidak didukung oleh bukti-bukti yang kuat.

Kedua, maksim kuantitas: diharuskan untuk memberi materi pembelajaran yang dibutuhkan saja. Pastikan materi dalam pembelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa, dan tidak melebihi kebutuhan siswa. Materi pelajaran jangan terlalu panjang.

Ketiga maksim relevansi, guru memberikan materi pembelajaran yang relevan dengan kondisi terkini, siswa belajar dan memahami dan bertindak untuk menghindar terpapar covid-19.

Keempat, maksim pelaksanaan, guru idealnya berbicara secara langsung, tidak kabur, tidak taksa dan tidak berlebih-lebihan serta runtut.

Untuk menambah ‘gairah’ siswa untuk belajar alangkah baiknya guru menerapkan Teori kesantunan Leech (1983): 1) Maksim kebijaksanaan: memaksimalkan keuntungan bagi siswa dan sebaliknya; 2) maksim kemurahan: memaksimalkan rasa hormat kepada siswa; 3) maksim penerimaan: memaksimalkan kerugian bagi diri sendiri dan meminimalkan keuntungan diri sendiri; 4) maksim kerendahan hati: memaksimalkan kecocokan diantara siswa; 5) maksim kesimpatian: guru memaksimalkan rasa simpati dan meminimalkan rasa antipasti kepada siswa.

Yang terpenting dari kesemuanya adalah guru dapat menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan selama siswa belajar dari rumah. Tidak perlu memaksakan sesuatu yang tidak bisa dengan alasan mengikuti kecanggihan teknologi, melainkan manfaatkan sesuatu yang sudah ada. Karena dari pembelajaran yang menyenangkan akan menghasilkan para pembelajar yang bahagia. Siswa yang bahagia akan berimbas pada orang tua yang gembira.

Bagi guru dan mulai saat ini, sudah saatnya kita ‘mengakhiri’ penderitaan siswa dalam memahami bahasa dan tuturan guru yang tidak nyambung. Akan mendapat pahala bagi guru kalau bisa memperbaiki strategi komunikasi dalam kelas dengan kompetensi pragmatic dalam rangka memberi inspirasi siswa untuk belajar seutuhnya.

*) Penulis adalah Pendidik di Madrasah


Penulis: Amri Ikhsan
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments