Sabtu, 19 September 2020

Beringin, Dilema Ivan atau Masnah?


Senin, 27 Juli 2020 | 16:39:09 WIB


Dr Dedek Kusnadi MSi MM
Dr Dedek Kusnadi MSi MM / Istimewa

Oleh: Dr Dedek Kusnadi MSi MM *)

GOLKAR betul-betul partai seksi. Tidak di pusat tidak di daerah. Si Beringin itu selalu saja menjadi media darling. Umpama perempuan cantik, yang pesonanya…amboi…membuat semua mata lelaki terbelalak memandangnya.

Begitulah Golkar Jambi sekarang.

Ajang pemilihan pucuk pimpinan Golkar tingkat kabupaten/kota itu membetot perhatian publik. Musda Golkar Muaro Jambi, yang dijadwalkan berlangsung Kamis lusa itu, paling ramai dibincangkan.

Di kantor-kantor. Di warung-warung kopi. Semuanya membicarakan itu. Maklum, perebutan tahta Golkar Muaro Jambi--yang melibatkan dua aktor penting: Ivan Wirata versus Masnah Busro--, memang paling panas. Paling ganas.

Kader partai ikut terbelah. Satu kaki di Ivan, kaki lain di Masnah.

Tensinya meninggi sepekan ini. Baik Masnah ataupun Ivan, aktif bergerilya. Siang malam. Dua puluh empat jam. Full day. Lobi sana lobi sini. Demi sebuah dukungan.

Pertarungan IW--inisial Ivan Wirata--melawan Masnah Busro--Bupati Muaro Jambi-- itu, ibarat mengulang kisah lama, Pilbup Muaro Jambi tahun 2017.

IW kala itu adalah seteru Masnah di ajang demokrasi lima tahunan tersebut. IW yang diusung Golkar sempat diunggulkan oleh sejumlah lembaga survei. Sementara Masnah yang diusung PAN, sempat tertinggal di urutan ketiga.

Takdir berkata lain. IW tersungkur dan tak berdaya melawan kedigdayaan Masnah. Sejak itu, Masnah menasbihkan diri sebagai perempuan pertama yang sukses menjadi Bupati di Provinsi Jambi.

Kemenangan itu memang harus dibayar mahal. Masnah hengkang dari keanggotaan Golkar--partai yang pernah membesarkannya--. Masnah memilih bergabung ke partai matahari terbit dan masih tercatat sebagai anggota hingga hari ini.

Nah!

Seteru itu sepertinya bakal kembali terulang di area Musda Golkar Muaro Jambi. Nama Masnah, yang mulanya nyaris tak terdengar, tiba-tiba merangsek masuk sebagai kandidat ketua. Malah, politisi perempuan itu kini paling diperhitungkan.

Padahal, jauh sebelumnya, ada nama IW yang digadang-gadang maju sebagai kandidat terkuat. IW hampir mulus dan melenggang merebut kursi Golkar 1 Muaro Jambi. Tapi, langkahnya kini terhadang oleh Masnah, seteru lamanya di Pilbup itu.

IW atau Masnah, siapa berpeluang?

Seperti bidak catur, pertarungan IW versus Masnah agak sulit ditebak. Dua-duanya punya modal kapital yang kuat. Sama-sama bercokol di lingkaran kekuasaan. Masnah Bupati. IW Anggota DPRD. Seperti pesilat, Ilmunya sama-sama tinggi. Sama-sama memegang sabuk hitam.

Tapi, langkah Masnah tentu tidak lah mudah. Ia terganjal oleh aturan partai : yang mensyaratkan hanya kader murni boleh menempati posisi pucuk pimpinan. Masnah adalah kader PAN, dan hingga kini belum melepaskan keanggotaannya.

Dulu, Masnah memang pernah menjadi kader Golkar. Ia bahkan, dua periode duduk di kursi dewan, dari fraksi Golkar. Tapi, ia memilih hengkang dari partai Beringin dan bergabung ke PAN, saat Pilbup 2017 itu.

Rekam jejak itu, agaknya menjadi batu sandungan bagi Masnah. Ia terlanjur dicap sebagai kader pembelot, untuk tidak mengatakan seorang penghianat Golkar. Tapi, penghianatan seperti sudah lazim terjadi dalam sejarah politik di belahan dunia manapun.

Diskresi membuka ruang bagi Masnah. Peluangnya untuk comeback ke rumah lamanya menganga lebar. Bagi Masnah, berteduh di bawah rindangnya pohon Beringin lebih nyaman dan menguntungkan ketimbang terus menerus mandi di bawah sinar Matahari.

Sementara IW, tak perlu diragukan lagi kesetiannya di Golkar. Melenggang ke kursi dewan provinsi, IW menjadi legislator peraih suara terbanyak di internal Golkar. Sebuah prestasi yang cukup membanggakan.

Sejak awal berbelok ke politik, IW konsisten berteduh di pohon beringin. Melaju di Pilbup Muaro Jambi, IW disokong Golkar. Ada anekdot, jika kulitnya terluka, bukan darah merah yang menyembur, melainkan warna kuning. Gambaran itu menunjukkan betapa IW sangat kental Golkar-nya.

Sewaktu masih aktif di ASN--Aparatur Sipil Negara--, IW juga sudah aktif di Golkar. Bayangkan. Ia dipercaya Bambang Soesatyo menjabat Ketua SOKSI Provinsi Jambi. Padahal, posisinya kala itu masih tercatat sebagai Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Jambi.

Ia rela membagi waktunya, sebagian untuk keluarga, sebagian lain untuk tugas Negara, sebagian untuk SOKSI.

Gara-gara aktif di organisasi sayap Golkar itu, bahkan IW terpaksa harus menelan pil pahit. Ia tersingkir dari posisinya sebagai Kadis PU, di era Gubernur Hasan Basri Agus (HBA) itu. Lewat SOKSI, IW dianggap berpotensi menjadi kandidat Gubernur pada Pilgub 2015.

Akibatnya, IW terus dikucilkan dari lingkaran kekuasaan. Puncaknya, ia mundur dari ASN dan memilih terjun ke gelanggang Pilbup Muaro Jambi.

Sebagai mantan pejabat PU dan beberapa kali menjadi Kepala Balai Sungai, IW punya koneksi kuat di pusat. Koleganya di DPP Golkar, bukannya sedikit. Karena itu, pertarungan IW versus Masnah akan sangat seru.

Masnah diuntungkan karena tercatat sebagai Bupati. Tapi, langkahnya tidak mudah karena rekam jejaknya sudah terlanjur tercoreng dan tercatat buruk di internal Golkar. Sementara IW yang hampir mulus langkahnya, kini memeroleh lawan tanding kuat. Di luar dugaan, rival kuat itu justru seteru lamanya di Pilbup.

Nasib IW dan Masnah kini ada di tangan para kader Golkar. Seperti arahan Ketua DPD 1 Golkar Provinsi Jambi, Cek Endra, yang menginginkan Musda berlangsung dalam suasana musyawarah-mufakat. Sudah menjadi tradisi Golkar, pucuk pimpinan biasanya dipilih secara aklamasi.

Skema itu sebetulnya baik dijaga, untuk memperkecil ruang perseteruan. Meredam kekisruhan. Saya yakin, IW dan Masnah akan bersikap bijak dan dewasa. Mereka bukan politisi kemarin sore, yang gagap dalam berpolitik.

Tapi, mereka adalah politisi yang sudah kenyang makan asam garam. Mereka paham mana yang terbaik buat organisasi, mana yang tidak. Mana yang menguntungkan bagi Golkar di masa depan, mana yang merugikan.

Mereka pastilah mahfum.
Apalagi Golkar Jambi kini punya hajat besar, tengah berikhtiar mendudukkan sang ketua partai menuju tahta Gubernur Jambi.

Selamat berMusda. Selamat berjuang. Yakusa!

*) Penulis adalah dosen UIN STS Jambi dan peneliti Puskaspol Jambi


Penulis: Dr Dedek Kusnadi MSi MM
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments