Sabtu, 19 September 2020

Hari Raya Kurban dan Adaptasi Kehidupan Baru (AKB)


Kamis, 30 Juli 2020 | 19:47:07 WIB


/

 Oleh: Amri Ikhsan

HARI raya Idul Adha atau Hari Raya Kurban identik dengan memotong hewan kurban. Agama Islam memang mensyariatkan bagi kaum muslimin yang mampu. Pelaksanaan kurban diawali oleh kisah Nabi Ibrahim AS yang akan menyembelih anaknya Nabi Ismail AS sebagai bentuk ketaatan dan rasa cinta terhadap Allah SWT, lalu oleh Allah diganti oleh seekor kambing. Setelah peristiwa itu, maka kurban, menjadi ibadah yang menyertai perayaan idul adha.

Momentum Idul Kurban kali ini menuntut kita untuk benar-benar berkurban (berkorban). Berkurban bukan sekadar memenuhi panggilan syari'at dengan menyembelih hewan, melainkan juga karena kondisi riil bangsa kita yang masih sangat memperihatinkan karena pandemi Covid-19

Dalam perspektif berkurban saat pandemi, ada empat pelajaran yang dapat diambil. Pertama, mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kurban merupakan sarana untuk mendekatkan diri  kepada Allah SWT. Semakin dekat kepada Allah, maka keimanan dan ketakwaannya pun akan meningkat. Harta yang dikurbankan dilandasi niat karena Allah, karena pada dasarnya semua harta yang dimiliki adalah titipan dari Allah SWT. Dan Allah akan memberikan pahala yang berlipat ganda bagi hamba-Nya yang berkurban.

Kedua, rela berkorban. Orang yang berkurban adalah simbol orang yang rela berkorban untuk orang lain. Dia mengorbankan harta yang dimiliki dan dicintainya semata-mata karena Allah. Tidak sedikit orang yang mampu kurban tetapi hatinya belum tergerak untuk berkurban. Orang yang berkurban adalah cerminan dari seorang manusia yang mampu mengalahkan ego pribadinya untuk kepentingan orang lain.

Ketiga, meningkatkan solidaritas sosial. Kurban merupakan simbol solidaritas sosial, yaitu membantu sesama manusia. Ibadah-ibadah umat Islam yang diperintahkan Tuhan senantiasa mengandung dua aspek tak terpisahkan yakni kaitannya dengan hubungan kepada Allah dan hubungan dengan sesama manusia.

Kurban merupakan bentuk empati terhadap kesulitan dan penderitaan orang lain. Oleh karena itu, sifat tersebut perlu ditumbuh kembangkan dalam kehidupan masyarakat ditengah-tengah kondisi masyarakat yang terganggu akibat pandemi ini.

Keempat, menghilangkan sifat-sifat buruk manusia. Kurban melatih manusia untuk menghilangkan sifat-sifat buruk seperti tamak, rakus, kikir, sombong, dsb. Tujuannya untuk peningkatan kualitas diri, memperkukuh empati, kesadaran diri, pengendalian dan pengelolaan diri yang merupakan cikal bakal akhlak terpuji seorang Muslim. (Kompasiana)

Berkurban saat pandemi berarti ingin menunjukkan nilai-nilai kepedulian, ketakwaan, dan kesalehan sosial, etos berbagi, dan signifikansi silaturahim. Pendidikan pandemi merupakan proses transformasi sosial budaya yang yang mengedepankan keluhuran moral dan berusaha menjadi manusia yang peduli terhadap norma-norma agama, hukum, sosial kultural, dan siap melayani orang lain dengan rela berkorban jiwa, raga, harta, ilmu, dan jasanya demi kesejahteraan dan kemaslahatan umat manusia. (Wahab)

Ketegaran, kesabaran dan kebugaran mental kita menerima ujian seperti pandemi Covid-19 dengan berkorban ‘lahir dan bathin menunjukkan bahwa berkorban dalam masa  pandemi memerlukan kesadaran, kesabaran, komitmen kuat, dan kecerdasan spiritual yang tinggi untuk menjalankan protokol kesehatan sehingga terhindar dari terpapar virus ini.

Diakui, pandemi ini telah mengubah kinerja sosial bermasyarakat: timbul rasa curiga dan hilangnya kepercayaan dan rasa toleransi terhadap orang-orang yang ada di sekitar. Covid-19 menjadi realitas penyakit yang mengubah perilaku sosial masyarakat termasuk kohesi sosial, kebiasaan, tata kelakuan, dan adat istiadat.

Berkurban dan berkorban selama pandemi merupakan awal memulai adaptasi kehidupan baru. Kita bisa mulai melakukan perubahan dengan niat dan kreatifitas dengan kerangka  “21 Century Partnership Learning”:

1. Critical Thinking dan Problem Solving (Berpikir Kritis dan Pemecahan Masalah). Di masa sulit seperti pandemi ini, berpikir kritis merupakan sebuah keharusan: kritis  memilih informasi, kritis dalam menjalankan protokol kesehatan, kritis dalam menjalan aktivitas sehari hari. Tujuannya agar muncul perspektif baru dalam kehidupan baru sehingga tumbuh solusi yang tepat untuk memulai “kehidupan baru” dan muncul opsi-opsi agar terhidar dari terpapar covid-19.

2. Creativity dan Innovation (Kreativitas dan Inovasi). Tanpa kreativitas dan inovasi  “kehidupan baru” akan menjadi beban hidup. Kita harus bersikap terbuka dan responsif terhadap kehidupan baru. Kebiasaan lama yang ‘berbahaya’ mesti ditinggalkan. Produktif di rumah, pembelajaran daring harus diiringi dengan kreatifitas dan inovasi sehingga pekerjaan ini tidak kalah mutunya dengan bekerja dalam situasi normal. Pandemi ini harus menjadi daya ungkit untuk pendorong munculnya ide-ide baru.

3. Collaboration (Kolaborasi). Dalam masa ketidakpastian, bersinergi, bekerja sama secara produktif dengan pihak lain merupakan sebuah keharusan. Kolaborasi adalah berbagi tanggung jawab, peran dan berempati untuk menghadapi ‘serangan’ Covid-19 sehingga muncul keunggulan kompetitif. Kolaborasi bukan saling mengalahkan atau menaklukkan.

4. Communication (Komunikasi). Berkomunikasi, berbagi informasi yang bermanfaat adalah salah satu cara ‘menengkan diri’. Kalau memang karena pysical distancing,  komunikasi kita banyak yang dilakukan secara virtual. Yang penting komunikasi diniatkan untuk ‘membahagiakan’ lawan bicara kita, bukan sebaliknya.

5. Confidence (percaya diri). Dalam masa sulit ini, kita dihadapkan dengan berbagai aturan dan informasi ‘baru’ yang harus diterapkan, Disini perlu kepercayaan diri yang tinggi, lakukan saja yang dianggap benar, jangan terlalu percaya dengan ‘kata kata orang’.

Kita sekarang bergerak menuju masa AKB (Adaptasi Kebiasaan Baru). Ini bukan berarti kembali ke kehidupan normal dan melakukan segala aktivitas sama seperti sebelum pandemi. Kita dituntut untuk mampu mengadaptasi kebiasaan baru dimana pun kita berada. Kita bisa bekerja, belajar, beribadah dan beraktivitas lainnya dengan aman, sehat dan produktif dengan cara: sering cuci tangan pakai sabun, pakai masker, jaga jarak, istirahat cukup dan rajin olahraga, makan makanan bergizi seimbang

Sejatinya ibadah kurban selama pandemi melatih kita untuk menebalkan rasa kemanusiaan, menghidupkan nurani, dan mengasah kepekaan terhadap lingkungan sekitar.

Semoga pengorbanan dan kepasrahan kita dapat mengantarkan kita menjadi dekat kepada Allah SWT serta  lebih peduli kepada umat-Nya. Aamiin. Wallahu a’lam bish shawab.


*) Penulis adalah Pendidik di Madrasah


Penulis: Amri Ikhsan
Editor: Herri Novealdi


TAGS:


comments