Jumat, 7 Mei 2021

Pengaruh Pemberitaan Media Tentang Covid-19 Terhadap Psikologi Massa


Sabtu, 11 April 2020 | 11:59:13 WIB


/

 Oleh: Jauhar Madani *)


COVID-19 menjadi hal yang hangat diperbincangkan beberapa bulan ini. Perhatian publik seolah hanya tertuju kesana saat ini. Tidak hanya itu bahkan media seolah mendukung dengan tidak lepasnya memberitakan bagaimana perkembangan dan dampak yang ditimbulkan oleh sebuah parasit kecil ini (Covid-19).

Virus ini pertama kali diidentifikasi pada akhir tahun lalu tepatnya pada bulan desember 2019 di Wuhan, ibukota provinsi Hubei China, dan sejak itu menyebar secara global.

Pada awal bulan Desember 2019 sejumlah pasien dengan penyakit tak dikenal berdatangan ke rumah sakit pusat Wuhan China. Mendiang Dr Li sempat menyampaikan kabar buruk tersebut di media sosial.

Penyakit yang menyebabkan radang paru-paru tersebut diduga diakibatkan oleh virus yang berasal dari pasar ikan Hunan yang juga menjual binatang liar. Setelah memasuki tahun 2020 otoritas China umumkan sebuah virus corona jenis baru. Korban meninggal berjatuhan hingga ribuan dan pasien di luar China juga dilaporkan semakin banyak. WHO telah menetapkan wabah Corona (Covid-19) sebagai pandemi global dan meminta semua komunitas dunia bekerja sama untuk mengakhiri masa masa sulit ini.

Pandemi Covid-19 telah menyebabkan terjadinya perubahan perilaku pengguna media sosial, saat presiden Joko Widodo mengumumkan penemuan kasus pertama Covid-19 pada 2 Maret 2020 lalu, belum terlihat perubahan yang signifikan terhadap pola konsumsi media. Namun makin intens nya pemberitaan membuat masyarakat mulai memantau setiap perkembangan terkait Covid-19 melalui berbagai media, tak terkecuali televisi.

Informasi mengenai hal-hal kecil, hal yang tak semua orang tahu, yang dianggap tak penting atau informasi yang sebenarnya tak dibutuhkan masyarakat bisa berubah menjadi besar, diketahui banyak orang, penting, dan dibutuhkan masyarakat.

Peran media massa menjadi semakin penting karena kesadaran massa pada umumnya adalah kesadaran simbolis, yakni kesadaran di permukaan.

Soal pemberitaan mengenai virus corona (Covid-19) kian menjadi momok menakutkan misalnya, terlihat media massa ikut berperan mempropagandakan isu. Hal ini sangat tampak seketika ada postingan yang beredar terkait meninggal maupun sementara dirawatnya beberapa pasien yang diduga atau terindikasi positif Corona. Hal inilah yang membuat media berbalik lebih meng-update masalah tersebut ketimbang penularan Covid-19 yang sedang merongrong masyarakat dan dan pemerintah.

Terlihat saat ini, debat kusir di media sosial lebih fokus membahas harga masker ketimbang mengantisipasi diri dari penularan virus menakutkan. Propaganda media inilah yang akhirnya membuat banyak orang cemas dan berbagai kasus yang semestinya menjadi sorotan dalam ruang diskusi seperti halnya korupsi, rancangan undang-undang(RUU) cipta kerja, intoleransi, serta merebaknya demam berdarah di berbagai daerah yang telah merenggut puluhan jiwa seketika hilang begitu saja dari ruang dialetika.

Sebagaimana yang disampaikan oleh presiden Joko Widodo bahwa ketakutan kita saat ini adalah bukan virus itu sendiri, melainkan rasa cemas, rasa panik, ketakutan, dan berita-berita hoaks. Oleh karena itu media mestinya tidak turut serta menimbulkan sindrom yang berlebihan di tengah geliat perang melawan Covid-19. Media konvensional harus mampu menetralisir keadaan agar masyarakat menghadapi situasi saat sekarang tanpa ada ketakutan.

Penulis berharap agar media dapat bersikap independen, tidak beritikad buruk, menempuh cara yang profesional dalam memberi informasi, menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, tidak menyiarkan berita berdasarkan prasangka.

Jika ada informasi yang keliru harus segera diralat  karena pada dasarnya pers adalah instrumen paling baik dalam pencerahan dan meningkatkan kualitas manusia sebagai makhluk rasional, moral dan sosial.


*) Penulis adalah Ketua Divisi Kajian Strategi dan Geopolitik Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Jambi


Penulis: Jauhar Madani
Editor: Herri Novealdi


TAGS:


comments