Selasa, 30 November 2021

Bansos Covid Bermasalah

Habiskan Rp 29,5 M, Data Amburadul, Penyaluran Tak Tepat Sasaran

Senin, 31 Mei 2021 | 09:23:10 WIB


Ilustrasi
Ilustrasi / istimewa


Isi paket sembako adalah beras premium 15 kg, gula pasir 3 kg, minyak goreng sebanyak 3 liter, tepung terigu 2 kg, mie instan, susu sebanyak, dan sarden. Pemprov  menunjuk langsung Bulog  Jambi sebagai penyedia barang tersebut.

Pejabat pembuat komitmen (PPK) di Dinas Sosducapil memesan paket sembako ke Bulog dalam tiga tahap dengan harga yang disepakati. Dalam dokumen hasil audit BPK yang didapat Metro Jambi, nilai total pesanan paket sembako tersebut  mencapai Rp 29,5 miliar.

Dengan dana sebanyak itu, Pemprov Jambi membeli sebanyak 84 ribu paket sembako. Pemprov menentukan keluarga penerima bantuan berdasarkan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dan keluarga lain di luar DTKS yang dinilai layak.

Dari penelusuran BPK, banyak ditemukan NIK tidak valid atau ganda dan nama yang ganda. Data keluarga non DTKS juga amburadul. Temuan lainnya adalah penyaluran bantuan yang tidak tepat sasaran.

Salah satu ditemukan di Kelurahan Teratai, Batanghari. Ada lima keluarga penerima bantuan JPS Covid-19 Provinsi Jambi adalah pelaku UMKM yang juga menerima bantuan langsung tunai (BLT) UMKM Rp 2,4 juta. 

Saat diakumulasi, BPK menemukan indikasi 674 penerima bantuan dengan nilai Rp 404.400.000 “tidak sesuai keadaan sebenarnya”.

Kepala Dinas Sosdukcapil Provinsi Jambi Arief Munandar mengakui sejumlah permasalahan tersebut. Menurut Arief, penerima manfaat bansos pada 2020 mencapai 30.000 keluarga yang tersebar di 11 kabupaten/kota. “Paling banyak di Merangin, paling sedikit Sungaipenuh," katanya.

Penulis: chy/mrj
Editor: Ikbal Ferdiyal/mrj



comments