Sabtu, 25 September 2021

Pandemi, Reseliensi, dan Manipulasi Bahasa

Senin, 26 Juli 2021 | 11:11:15 WIB


Amri Ikhsan
Amri Ikhsan / istimewa

Oleh: Amri Ikhsan *)

COVID-19 telah meningkatkan kecemasan banyak orang. Para ahli memperingatkan bahwa sebagian kecil orang bisa mengalami masalah kesehatan mental yang berkepanjangan, lebih lama dari pandemi itu sendiri. (BBC News)

Dalam dunia pendidikan, penyesuaian pembelajaran daring mungkin dapat dilakukan dengan mudah dan menyenangkan bagi sebagian guru, siswa dan orang tua, namun akan menjadi masalah besar bagi sebagian pihak yang lain dan akan memunculkan permasalahan kesehatan mental atau kesejahteraan psikologis.

Sedikit banyak akan mempengaruhi performa dan kualitas pembelajaran serta mengurangi pemenuhan hak siswa atas kualitas pendidikan yang berkualitas, kesempatan tumbuh kembang yang optimal, kesempatan berkreasi dan berkontribusi dalam kegiatan pembelajaran.

Jika diteliti, permasalahan mental yang sering terjadi bisa disebabkan oleh: 1) siswa tidak memiliki akses belajar jarak jauh: HP yang tidak memadai, sinyal ‘lelet’, kuota yang terbatas, 2) siswa tidak bisa mengontrol waktu belajar, 3)  kesulitan memahami pelajaran tapi tidak ada akses untuk bertanya, 4) tidak memahami instruksi guru, tapi malu bertanya; 5) terlalu banyak tugas tapi tidak ada yang membantu.

Disamping itu, sebagian siswa juga mengungkapkan bahwa mereka juga merasa takut tertular virus dan merasa tidak aman karena Covid-19. Apalagi tersiar kabar tetangga atau penduduk desa terkonfirmasi positif. Kekhawatiran siswa menjadi puncak bila kondisi ekonomi orang tua menurun drastis akibat pengaruh Covid-19 ini.

Bagi siswa yang suka bermain di media sosial, kecemasan ini bertambah bila terbaca atau terlihat berita atau  gambar tentang Covid-19 (jumlah pasien yang terjangkit atau meninggal dunia, rumah sakit sudah penuh, Rumah sakit kehabisan oksigen) secara terus-menerus, apalagi bila yang beredar itu berita hoaks. Informasi yang berlebihan ini menyuburkan kecemasan siswa.

Oleh karena itu, sekolah dan madrasah harus ‘bertindak’. Lembaga ini harus mampu mengelola kondisi ini agar tidak mengganggu kehidupan akademik warga sekolah/madrasah. Yang paling disarankan oleh banyak pihak adalah meningkatkan reseliensi warga sekolah/madrasah, kemampuan seseorang untuk bertahan dan bangkit di masa krisis atau masa yang sulit, beradaptasi positif terhadap kesulitan (Gatt et al. 2020).

Sekolah dan madrasah harus memiliki strategi untuk mengedukasi warganya berkemampuan untuk bertahan atau tidak menyerah pada keadaan sulit dan berusaha untuk belajar dan beradaptasi pada keadaan tersebut, kemudian bangkit untuk menjadi manusia baru yang lebih kuat, gigih, tangguh dan kreatif menyikapi pandemi ini.

Ada beberapa ‘kompetensi’ yang harus diajarkan: (1) mengelola diri agar tetap bekerja dan belajar di bawah tekanan; (2) berperilaku positif, menunda kesenangan demi keselamatan dan kesehatan; (3) menganalisis menemukan akar masalah; (4) berpikir ‘out of the box’ untuk mencari solusi; (5) keyakinann diri bahwa dirinya mampu menyelesaikan masalah.

Sekolah dan madrasah wajib hukumnya memberi dukungan: (1) emosional, dukungan yang berupa kepedulian, perhatian, motivasi, empati dan dorongan kepada individu; (2) instrumental, dukungan nyata yang diberikan secara langsung untuk membantu individu; (3)  informatif, dukungan berupa nasehat, arahan, informasi dan saran mengenai apa yang sebaiknya dilakukan oleh individu; dan (4) persahabatan atau kebersamaan, yaitu dukungan berupa waktu yang dihabiskan untuk memberikan nuansa kebersamaan.(Sarafino & Smith, 2014)

Dukungan ini diharapkan memfasilitasi terbangunnya ketahanan emosional dan membantu menyalurkan tekanan emosi atau stres secara positif, mengendalikan beban psikologis secara alamiah sehingga tidak terus dipendam dan mengganggu mental yang berefek kurang semangat dalam belajar dan bekerja.

Dukungan ini bisa dibantu dengan menggunakan bahasa. Bahasa dimanipulasi agar warga sekolah dan madrasah bisa ‘melepaskan’ tekanan batin yang ada dalam pikiran mereka. Cara ini ditempuh karena cara ini paling minim resiko dan tidak memerlukan biaya yang relatif besar.

Ini disesuaikan dengan kondisi terkini dimana warga sekolah dan madrasah diyakini akrab dengan ‘bahasa’ yang sering dipakai dalam media sosial mereka. Media sosial adalah kehidupan mereka, hidup mereka lebih banyak dihabiskan di dunia maya dengan medsosnya.

Apalagi memasuki abad 21, peran bahasa dalam kehidupan sehari hari semakin penting, informasi informasi yang ada di berbagai media tidak dapat dipisahkan dari bahasa. Oleh karena itu, manusia yang berbeda bahasanya melihat realitas juga berbeda, karena bahasa membentuk pemikiran manusia, bahasa mempengaruhi pemikiran manusia (Mauthner, 1998).

Harus ditanamkan ke warga sekolah dan madrasah perbedaan antara ‘dunia bahasa’ dengan dunia realitas (realitas di luar bahasa). Keadaan ini sering dimanfaatkan sebaga salah satu srategi komunikasi dalam bentuk manipulasi bahasa. Manipulasi bahasa merupakan tindakan untuk mempengatruhi atau mengarahkan perilaku, sikap dan pendapat orang lain dengan menggunakan bahasa. Manipulasi bahasa bertujuan untuk menutupi realitas yang ada, dan mempengaruhi seseorang agar memiliki pandangan atau berperilaku sesuai dengan yang diinginkan terhadap orang atau benda benda tertentu (Lewandowski, 1985)

Manipulasi bahasa dalam arti yang positif. Sebenarnya manipulasi adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Ketika menguap, batuk, atau bersin di tempat umum, kita biasanya memanipulasi mulut-hidung dengan gerakan tangan yang menutup. Kita memanipulasi porsi makan dan minum sehari-hari agar bisa mendapatkan postur tubuh yang diinginkan. Seseorang memanipulasi tangannya terjulur ke depan ketika menunjukan keinginan berkenalan dan kita juga membalas dengan manipulasi tangan yang sama agar terasa ramah.

Tugas sekolah dan madrasah adalah berkomunikasi secara intensif dengan warga sekolah dan madrasah dengan suasana yang menggembirakan penuh senyum dan tawa dan tidak ada pihak yang tertekan. Memanipulasi dalam konteks ini adalah: 1) menggunakan kata kata yang mengandung unsur makna emosi sehingga dapat menimbulkan emosi positif; 2) menerapkan prinsip kesantunan; 3) berbicara secukupnya sesuai kebutuhan; 4) dalam konteks non-medis, bertutur dengan ‘mengecilkan’ masalah, tapi dalam konteks medis, berkata yang sebenarnya; 5) berkata relevan; 6) bertutur secara langsung, jelas, dan tidak kabur.

Kita bisa bahagia, gembira karena bahasa, tapi kita juga bisa sedih, menderita juga karena bahasa!

*) Penulis adalah Pendidik di Madrasah


Penulis: Amri Ikhsan
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments