Selasa, 30 November 2021

Kebijakan Sekolah Daring di Bungo Dinilai Tidak Tepat

Senin, 26 Juli 2021 | 20:33:20 WIB


Marwansyah Putra Siregar
Marwansyah Putra Siregar / Metrojambi.com

 MUARABUNGO - Kebijakan pemberlakuan sekolah secara daring di enam kecamatan dalam Kabupaten Bungo dinilai tidak tepat. Pasalnya, pelarangan tersebut hanya berlaku untuk sekolah saja, sedangkan tempat perkumpulan lain tidak dilakukan pelarangan.

Anggota DPRD Bungo dari Partai Berkarya, Marwansyah Putra Siregar menyebut seharusnya pemerintah mengambil kebijakan secara adil tanpa keberpihakan.

"Yang dilarang hanya sekolah, sedangkan pesta pernikahan dan keramaian lainnya tidak dilarang," kata Marwan, Senin (26/7).

Ia meminta Bupati Bungo mengkaji ulang kebijakan yang dikeluarkannya tersebut. Marwan menilai jika sekolah daring terus dilakukan akan menjadi kemunduran dalam prestasi anak didik di Kabupaten Bungo.

"Tidak semua orang tua bisa membimbing anaknya untuk belajar di rumah, dan tidak semuanya juga punya perlengkapan untuk belajar Daring," ujar Marwan.

Sebelumnya, untuk menghindari penularan terhadap siswa didik, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bungo melakukan pebagian zona setiap kecamatan untuk mengatur pelaksanaan kegiatan belajar mengajar (KBM) masa pandemi.

Kepala Dinas Pendidikan Bungo, Masril saat dikonfirmasi menyebut pembagian zona terbagi menjadi dua, yakni zona merah dan zona selain merah. Penempatan kedua zona tersebut disebutnya sudah menjadi kesepakatan Dinas Pendidikan bersama instansi terkait serta Tim Satgas Covid-19 Bungo.

"Kedua zona itu kita ambil dari tingkat penularan Covid-19. Jika yang terkonfirmasi di Kecamatan tersebut banyak maka masuk ke zona merah," ujarnya.

Dalam keputusan tersebut sebanyak 6 Kecamatan masuk dalam zona merah, yakni Kecamatan Rimbo Tengah, Bungo Dani, Bathin III, Pasar Muara Bungo, Pelepat dan Pelepat Ilir.

Sementara, sebanyak 11 Kecamatan masuk ke zona selain merah, yakni Kecamatan Jujuhan Ilir, Rantau Pandan, Bathin III Ulu, Muko-Muko Bathin VII, Limbur Lubuk Mengkuang, Tanah Tumbuh, Tanah Sepenggal Lintas, Bathin II Babeko, Bathin II Pelayang, Jujuhan dan Tanah Sepenggal.


Penulis: Khairul Fahmi
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments