Sabtu, 18 September 2021

Tiga Posnya Dibakar dan Dirusak Warga, Ini Kata Manajemen PT Reki

Jumat, 18 Juni 2021 | 20:02:06 WIB


Salah satu bangunan milik PT Reki yang dirusak warga
Salah satu bangunan milik PT Reki yang dirusak warga / Metrojambi.com

JAMBI -  Sejumlah bangunan milik PT Restorasi Ekosistem Indonesia (Reki) yang menguasai areal hutan seluas 98.555 hektare di Jambi-Sumsel kembali diserang masyarakat perambah. Dua bangunan dibakar, satu dirusak. Sementara dua petugas PT Reki sempat disandera.

Manager Perlindungan Hutan (Linhut) PT Reki TP Damanik dalam keterangan persnya, Jumat (18/7), mengatakan pelakunya diduga sekelompok orang yang mengatasnamakan warga RT 36 Dusun Kunangan Jaya 2 Desa Bungku, Batanghari.

Dia mengatakan, salah satu yang disandera adalah warga suku anak dalam Batin Sembilan. Damanik menuturkan, pada 16 Juni tim Linhut PT Reki menemukan ada alat berat  di area Simpang Macan Dalam.

Sempat terjadi perdebatan antara tim Linhut dengan tiga penjaga alat berat tersebut. Akhirnya disepakati, tiga warga tersebut setuju untuk membawa keluar alat berat dari areal PT Reki. 

Akan tetapi, sekitar pukul 16.30 WIB manajemen PT Reki mendapatkan kabar dari pos Simpang Macan bahwa telah terjadi  penyerbuan oleh sekelompok orang yang diduga berasal dari RT 36 dan sekitarnya.

"Selain merusak pos, kelompok tersebut menyandera R (warga Batin Sembilan) dan BS ke RT 36," katanya.

Tak lama setelah laporan penyanderaan tersebut, manajemen PT Reki kembali mendapat kabar bahwa pos pengamanan Sungai Kandang juga dibakar. Kelompok warga juga disebut bersiap menuju pos pengamanan Simpang Macan Luar untuk membakar.

Sekitar pukul 19.18 WIB tim Polsek Bajubang menuju lokasi. “Dua jam kemudian, personel PT Reki di lapangan mengabarkan bahwa Pos 51 telah dibakar massa yang diduga warga RT 36, RT 29, dan Simpang Macan Dalam (sekitar 50 orang) pukul 18.30 WIB,” ujar Damanik.

Menurut Damanik, aparat Polres Batanghari yang dipimpin oleh Kabag Ops Kompol Abdul Roni tiba di lokasi penyanderaan sekitar pukul 03.00 WIB untuk melakukan negosiasi dengan perwakilan warga.

Dalam proses negosiasi tersebut, warga meminta ganti rugi sebesar Rp 450 juta karena atas produksi sawit mereka yang busuk.

Tim berhasil membebaskan sandera sekitar pukul 05.00 WIB.  Polisi memastikan tidak ada pemenuhan ganti rugi Rp 450 juta untuk menebus dua staf itu.

“Kami sudah melakukan berbagai upaya persuasif, tapi warga terus menolak. Kami serahkan kasus perusakan, pembakaran pos pengamanan, dan penyanderaan staf Hutan Harapan kepada aparat yang berwenang,” terang Damanik.


Penulis: mrj
Editor: Ikbal Ferdiyal/mrj


TAGS:


comments