Sabtu, 23 Oktober 2021

Api di PT AAS Masih Berkobar, Satgas Karhutla Minta Bantuan Kementerian ESDM

Selasa, 21 September 2021 | 08:17:41 WIB


/ dokumentasi - Metrojambi.com

JAMBI - Pemadaman api di area konsesi PT Agronusa Alam Sejahtera (AAS) yang terbakar akibat aktivitas penambangan minyak ilegal mendapat banyak kesulitan. Petugas tidak mampu memadamkan api karena munculnya semburan gas dari sumur minyak yang terbakar.

“Sampai saat ini api masih belum padam karena sangat besar, yang bersumber dari salah satu titik sumur minyak ilegal yang memiliki sumber gas. Ketinggian api mencapai 20 meter ke atas,” kata Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jambi Kombes Pol Sigit Dany Setiyono kepada wartawan, Senin (20/9).

Baca juga : Seorang Oknum Polisi Diamankan Terkait Kebakaran Sumur Minyak Ilegal di Areal PT AAS

Namun, kat dia, Satgas Karhutla terus berusaha melakukan mitigasi bencana melalui operasi water bombing untuk melokalisir api agar tidak meluas.

Operasi juga dilakukan oleh pasukan pemadaman darat, yang dibantu Polres, Kodim dan BPBD Batanghari dan Sarolangun. “Dari kemarin sudah dilakukan operasi water bombing sebanyak 110 kali, kapasitas 400 ton, untuk melokalisir area di sekitar api,” tambah Sigit.

Satgas Karhutla juga berkoordinasi dengan Dirjen Migas Kementerian ESDM. Selanjutnya, operasi pemadaman juga akan melibatkan dukungan PT Pertamina yang memiliki kompetensi dalam mitigasi kebakaran pada sumur minyak.

Baca juga : Masih Ada Bau Gas di Lokasi Sumur Minyak Ilegal, Kapolda Minta Petugas Waspada

Sumur dan bak penampungan minyak ilegal dalam areal PT AAS di Desa Bungku, Kecamatan Bajubang, Batanghari, terbakar pada Sabtu (18/9), sekitar pukul 05.45 WIB. Hingga Senin (20/9), kobaran api dan asap tebal masih terlihat di lokasi yang berbatasan dengan konsesi PT Restorasi Ekosistem Indonesia (Reki) itu.

Menurut Sigit,  kebakaran tersebut pertama kali dilaporkan oleh Satgas Udara Karhutla Provinsi Jambi pada Sabtu, 18 September 2021, sekitar pukul 10.00 WIB. Saat diperiksa, titik api ditemukan di lokasi illegal drilling atau sumur pengeboran minyak ilegal.

Akibat kebakaran itu, seorang pekerja dilaporkan mengalami luka bakar serius, yang diketahui bernama Hasanudin (41), warga asal Pringsewu, Lampung. Dia dilarikan ke RSUD Sungaibahar dengan kondisi luka bakar 80 persen di tubuhnya.

Informasi terakhir, Hasanudin dirawat di RS Bhayangkara, Jambi. Sigit mengatakan, korban terbakar menjalani perawatan di bawah pengawasan Polda Jambi. “Korban ini diduga juga ikut melakukan kegiatan illegal drilling,” katanya.

“Ini menjadi pembelajaran berharga bagi warga Jambi, agar masyarakat khususnya di lokasi illegal drilling memahami betapa besar dampak dan risiko akibat illegal drilling,” pungkasnya.

Sekretaris BPBD Batanghari Samral Lubis yang dihubungi terpisah menyebutkan bahwa pemadaman api di lokasi kebakaran cukup sulit. “Hotspot masih terpantau. Sepertinya ada gas, jadi susah kami mengendalikan api tersebut,” ujarnya, Senin (20/9).

Menurut Samral, pemadaman api yang membakar minyak dan gas memerlukan alat khusus dari Pertamina. “Kita tidak terlatih dengan hal itu. Jadi kami tidak berani menggerakkan anggota lebih jauh lagi,” katanya.

Hal senada disampaikan Kepala BPBD Provinsi Jambi Bachyuni. Menurut dia, selain api yang sulit dipadamkan, medan yang harus ditempuh untuk menjangkau lokasi juga berat.

“Api masih menyala. Medannya sulit dijangkau. Sebelumnya sudah dipadamkan dengan menggunakam water bombing dan saat ini anggota masih di lokasi untuk membuat sekat agar api tidak membesar,” jawabnya singkat.


Penulis: nov/chy/mrj
Editor: Ikbal Ferdiyal/mrj



comments