Kamis, 21 Oktober 2021

Sesat Logika Corona

Senin, 12 Juli 2021 | 06:51:13 WIB


Musri Nauli
Musri Nauli / istimewa

Oleh: Musri Nauli *)

TIDAK dapat dipungkiri, virus corona (corona) memakan korban. Data terakhir sudah menunjukkan 2,5 juta dinyatakan positif, 2,08 juta dinyatakan sembuh, dan 66 ribu meninggal dunia.

Sebagai data, bisa saja dibaca berbeda. Hantu horor yang mencapai 2,5 juta sudah mengerikan. Angka yang dapat dikatakan pandemi mulai menyerang berbagai lapisan masyarakat.

Namun disisi lain, justru angka 2,08 juta dinyatakan sembuh memberikan angka optimis. Corona dapat disembuhkan. Walaupun angka 66 ribu yang meninggal dunia tidak boleh diremehkan.

Upaya pemerintah yang menghadapi corona harus diberikan tempat apresiasi. Terlepas dari kekurangan disana-sini, dukungan kepada pemerintah baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah harus senantiasa diberikan.

Saya justru melihat dari pendekatan dan persepsi yang lain. Berbagai narasi yang dibangun berangkat dari logika yang sesat.

Pertama. Adanya “penolakan” terhadap corona dan tidak mempercayai corona berbungkus agama.

Narasi seperti “tidak boleh takut. Hanya takut kepada tuhan”. Demikian seruan narasi ditaburkan diberbagai kesempatan.

Menghubungkan antara “takut kepada tuhan” dipadankan dengan ketakutan kepada corona adalah narasi yang menyesatkan.

Betul. Sebagai umat beragama, manusia hanya boleh takut kepada Tuhan semata.

Namun menghubungkan antara “takut kepada Tuhan” dengan “takut kepada corona” bukanlah “apple to apple”.

Secara Sederhana, sungguh tidak tepat.

Waspada sekaligus mawas diri menghadapi corona justru bukan menunjukkan “takut kepada corona”. Tapi adalah upaya ikhtiar sebagai makhluk dihadapannya.

Justru ikhtiar merupakan fitrah manusia yang diberikan akal oleh Tuhan.

Mengabaikan ikhtiar sekaligus mengenyampingkan akal menjauhkan manusia dari Tuhan.

Sehingga narasi yang dibangun “takut kepada corona” justru tidak menjawab persoalan sebenarnya.

Kedua. Virus corona tidak ada.

Narasi yang kemudian menempatkan “corona tidak ada” adalah pengabaian pengetahuan.

Sebagai pengetahuan, maka dapat diuji dan dipertanggungjawabkan.

Sehingga mengabaikan pengetahuan justru meminggirkan kemajuan peradaban. Meminggirkan ilmu pengetahuan.

Alangkah noraknya manusia yang telah diberikan akal justru meminggirkan ilmu pengetahuan.

Ketiga. Nasib.

Narasi yang dibangun adalah korban-korban yang menderita corona adalah Sudah nasibnya. Sebuah upaya yang sungguh-sungguh kontras dengan berbagai data.

Menempatkan korban corona dengan spontan sebagai “nasib” justru sama sekali tidak menunjukkan upaya ikhtiar.

Padahal Sebelum ditempatkan sebagai “nasib”, korban corona haruslah diperlakukan sebagai manusia.

Sehingga menempatkan manusia sebagai korban corona adalah upaya ikhtiar untuk melewatinya bersama-sama.

Termasuk upaya membangun “daya tahan tubuh” menangkal corona.

Berbagai sesat logika yang dibangun justru menjauhkan manusia dari persoalan corona. Termasuk kegagalan untuk menyelesaikan corona.

Dengan demikian justru akan menjadikan persoalan corona semakin berlarut-larut.

Diperlukan upaya berbagai pihak bersama-sama melewati krisis dan pandemi corona.

Dengan bergandengan Tangan, kita berharap dapat melewatinya..

*) Advokat. Tinggal di Jambi


Penulis: Musri Nauli
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments