Rabu, 19 Januari 2022

Gudang Minyak Ilegal Marak, Aparat Kecamatan dan Kelurahan Terkesan Cuek

Selasa, 26 Oktober 2021 | 07:23:44 WIB


Gudang penampungan dan pengolahan minyak ilegal di Jaluko, Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi terbakar
Gudang penampungan dan pengolahan minyak ilegal di Jaluko, Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi terbakar / dokumentasi - Metrojambi.com

JAMBI - Gudang dan pabrik pengolahan minyak mentah ilegal marak di batas Kota Jambi dan Muarojambi. Operasi penggerebekan gudang dan pengungkapan kasus minyak ilegal sejak pekan lalu hanya membuka sebagian kecil tabir bisnis kotor ini.

Metro Jambi memantau langsung tempat-tempat yang diduga menjadi lokasi gudang dan pengolahan minyak ilegal di beberapa kecamatan sepanjang Jalan Lintas Timur dan Jalan Lingkar Barat pada Sabtu (23/10) lalu.

Baca juga : Polres Muarojambi Tetapkan Tersangka Kasus Kebakaran Gudang Minyak Ilegal

Di Penyengat Rendah, Telanaipura, terpantau sedikitnya tujuh gudang dan tempat pengolahan minyak mentah ilegal dari Bajubang. Sebelum marak pengeboran minyak ilegal di Desa Bungku, Pompa Air dan sekitarnya di Kecamatan Bajubang, Batanghari, minyak ilegal masuk ke Jambi dari Bayat.

Baca juga : Tim Gabungan Hancurkan Tempat Pengolahan Minyak Ilegal di Jaluko

Bayat adalah kawasan illegal drilling terkenal di Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Karena itu, minyak ilegal ini juga dikenal dengan sebutan minyak Bayat.

Begitu produksi sumur-sumur minyak ilegal di Bayat menurun, para toke dan pencari minyak bumi ilegal bergeser ke Jambi. Bajubang menjadi surga minyak ilegal kedua. Bertahun-tahun seolah tidak tersentuh hukum.

Sebagian besar tempat pengolahan minyak di Penyengat Rendah berpagar seng. Pada siang hari saat Metro Jambi menyisir kawasan itu, pintu-pintu seng ditutupi ranting kayu, ban dan seng bekas. Seolah memberi sinyal sedang tidak beroperasi. Ada pula yang ditutup palang besi.

Seorang warga di sekitar lokasi menyebutkan bahwa sejak beberapa hari terakhir gudang-gudang tersebut memang tampak sepi aktivitas. Tapi, biasanya beroperasi pada malam hari. 

Baca juga : Pabrik Minyak Ilegal Terbakar, Para Pekerja Melarikan Diri

“Banyak, di sini bukan satu atau dua saja. Tidak tahu milik siapa,” ujar sumber yang meminta namanya dirahasiakan ini.

Informasi lain menyebutkan, tempat-tempat pengolahan minyak ilegal itu sepi sejak terbakarnya gudang minyak ilegal di Bukit Pembunuhan, RT 16 Kelurahan Pijoan, Kecamatan Jaluko, Muarojambi, Senin (18/10) lalu.

Pengelola gudang itu disebut-sebut seorang pemain minyak asal Kota Jambi berinisial B. Namun, tak satu pun tersangka yang diamankan polisi terkait kasus itu.

Usai kebakaran, tim gabungan menggencarkan operasi terhadap bisnis minyak ilegal. Selasa (19/10),  Polda Jambi menangkap lima pengoplos minyak ilegal di Desa Kebon IX, Sungaigelam, Muarojambi.

Gudang itu disebut polisi milik seorang berinisial AS. Polisi juga mengamankan mobil tangki Mitsubishi Canter HDL BH 8756 EU dan 9.000 liter solar.

Lalu, Kamis (21/10), aparat menggerebek gudang di Jalan Lingkar Barat dan menemukan puluhan drum dan toren besar berisi minyak ilegal.

Pada hari yang sama, sebuah gudang di kawasan Jalan Abdul Rahman Saleh, Paalmerah, juga digerebek, yang belakangan diketahui sebagai gudang minyak PT Ocean Petro Energy. Gudang ini juga dicurigai menampung dan mengolah minyak ilegal.

Polisi juga memeriksa sejumlah kendaraan yang dicurigai mengangkut minyak ilegal.

Seorang pria, Januari Tri Putra (26) diamankan saat mengangkut minyak ilegal dengan Kijang Innova BH 4124 NN yang dimodifikasi, Sabtu (23/10). Saat diamankan, Januari  mengangkut 1.800 liter premium.

Pada Sabtu itu pula, Polres Batanghari membongkar dan merusak sumur minyak ilegal di Desa Bungku dan Pompa Air, Bajubang. Sebanyak 35 lubang sumur, 21 tiang steger, empat canting, tujuh toren dan dua bak seller dirusak.

Sumber Metro Jambi di Penyengat Rendah mengungkapkan, operasi penertiban oleh aparat tidak menyurutkan para pebisnis minyak ilegal di kawasan tersebut. 

“Gudang dan pengolahan minyak ini bisnis yang menggiurkan. Buktinya, ini akan ada gudang minyak ilegal baru di wilayah sini, tapi belum beroperasi,” tambah dia.

Sebagian gudang dan pengolahan minyak ini diketahui menampung minyak mentah ilegal dari Bajubang untuk diolah menjadi bensin, solar dan lainnya. Ada pula yang hanya menampung bensin dan solar untuk dioplos dengan bensin dan solar Pertamina.

Menurut sumber, banyak kendaraan memang mengkonsumsi BBM campuran minyak Bajubang dan minyak Pertamina karena harganya lebih murah. “Biasanya yang beli adalah pemilik alat berat penambang emas ilegal (illegal mining) di Sarolangun, Merangin dan Bungo,” ujar sumber ini.

Inilah yang mendorong usaha pengolahan dan pengoplosan minyak ilegal ini. “Di sepanjang Jalan Lintas Timur ini banyak,” ujar sumber ini lagi.

Bila berjalan dari arah Simpang Mendalo menuju Jembatan Aurduri, di depan Perumahan Aston Villa diketahui ada satu gudang. “Kemudian di Lorong SMP 7 Muarojambi juga ada,” kata sumber ini.

Camat Telanaipura Hartono yang dikonfirmasi Metro Jambi mengaku mengetahui beberapa gudang minyak ilegal di Penyengat Rendah. Namun, dia mengaku tak dapat berbuat banyak.

“Milik siapa, saya tidak tahu. Kalau jumlah yang saya tahu hanya di dekat masjid itu saja,” katanya. Katanya, gudang minyak tersebut memang tidak memiliki izin. “Tapi sebagian masuk wilayah Muarojambi,” tambahnya.

Lurah Penyengat Rendah Haris menyatakan bahwa gudang minyak di wilayahnya sudah tidak beroperasi lagi. “Kalau yang di Lorong SMP 7 itu masuk Muarojambi,” ujarnya singkat.

Bergeser ke Kecamatan Kotabaru, tepatnya di Kelurahan Kenaliasam, warga sekitar menyebut lokasi gudang minyak ilegal menyebar di Jalan Lingkar Barat. “Di sini, seputaran kantor PTPN VI ini saja, ada tiga lokasi,” sebut warga.

Namun Camat Kotabaru Jauharul mengaku tidak mengetahui keberadaan gudang dan tempat pengolahan minyak ilegal tersebut.  “Nanti saya cek dengan Kasi Trantib. Kebetulan saya baru lima bulan menjabat,” ujarnya.

Camat Jaluko Rino Oetami  menyatakan, sejak kebakaran gudang minyak ilegal di Pijoan, dia belum mendapat kabar ada lokasi lain gudang dan pengolahan minyak ilegal. “Kita bekerja sama dengan kepolisian untuk mendatanya,” ujarnya.


Penulis: chy/mrj/ant
Editor: Ikbal Ferdiyal/mrj



comments