Sabtu, 20 Agustus 2022

Panasnya Harga Minyak Goreng

Rabu, 15 Desember 2021 | 22:12:23 WIB


/

Oleh Lina Marliana*

SETAHUN ini harga minyak goreng terus mengalami kenaikan. Per 15 Desember 2021,  minyak goreng curah mencapai 18.000 per kg. Sedangkan harga minyak goreng kemasan bermerek 1 Rp 20.000 per kg dan minyak goreng kemasan bermerk 2 Rp 19.550 per kg. Data ini bersumber dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS).

Dari Januari 2020 hingga Desember 2021 kenaikan tiga jenis minyak goreng ini bergerak dari 37,1 persen hingga 42 persen lebih.

Harga ini jauh dari harga acuan dalam Permendag Nomor 7 Tahun 2020 tentang Harga Acuan Pembelian di Tingkat Petani dan Harga Acuan Penjualan di Tingkat Konsumen, yaitu Rp 11.000 per liter untuk minyak goreng kemasan sederhana.

 

Analisa Faktor Harga

Harga crude palm oil (CPO) atau minyak sawit mentah di bursa Malaysia tercatat MYR 4.615 per ton. Harga CPO yang tinggi mengakibatkan mahalnya harga minyak goreng saat ini.

Pabrik-pabrik yang ada di Indonesia selama ini membeli CPO di pasar lelang Dumai, yang terkoneksi dengan harga pasar dunia, yaitu Rotterdarm, Belanda. Maka, harga minyak goreng susah diatur dalam standar harga nasional.

Harga CPO dipengaruhi penurunan produksi produsen sawit Malaysia karena kelangkaan tenaga kerja. Pada saat yang sama krisis energi di beberapa negara membuat mereka beralih ke biodiesel, terutama untuk pasokan energi sepanjang musim dingin.

Indonesia sejak awal 2021 menggenjot produksi biodiesel dari sawit lewat program B30. Secara otomatis permintaan CPO dari pasar domestik dan luar negeri telah mendongkrak indeks harga pangan.

Pada Oktober 2021, indeks harga pangan menyentuh 132,8, naik jadi 134,4 pada bulan berikutnya. Dalam dua bulan tersebut, indeks harga pangan melampui indeks harga pangan saat krisis pangan 2011 sebesar 131,9. Salah satu faktornya, naiknya harga minyak nabati.

Indonesia merupakan produsen sawit nomor sau di dunia. Menurut Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia, pada 2020 produksi CPO mencapai 46 juta ton. Sebanyak 43 persen digunakan sebagai konsumsi dalam negeri, sisanya untuk ekspor. Atau, sebanyak 8,6 juta ton untuk pangan dalam negeri dan 18,4 juta ton untuk pangan ekspor.

Sedangkan serapan energi biodiesel sebanyak 10,5 juta ton untuk dalam negeri dan 0,5 juta ton untuk ekspor. Sisanya untuk industri lainnya.

Saat ini, ada 74 pabrik minyak goreng berbasis kelapa sawit. Dari jumlah itu, sebanyak 45 pabrik berada di Pulau Jawa. Persoalannya, Jawa bukan penghasil sawit. Kebanyakan bahan baku dari luar Jawa, sehingga menjadi problem dalam pengangkutan CPO. Pemerintah harus mengintegrasikan hulu hingga hilir industri ini, termasuk membenahi distribusi.

 

Apakah Terus Memanas?

Harga CPO mengalami penurunan pada perdagangan 15 Desember 2021 sebesar MYR 4.615 per ton, atau turun 1,79 persen dari bursa penutupan hari sebelumnya.  

Jika dalam sepekan terus mengalami penurunan, maka harga minyak goreng juga akan turun. Di kutip dari cnbcindonesia.com, Hidayat Setiaji menulis “Harga Sawit Mau Terjun Bebas”. Dalam tulisan itu, Wang Tao, analis komoditas Reuters, memperkirakan harga CPO masih bisa turun lagi. Tren koreksi harga CPO ini akan terjadi lama.

Semoga harga minyak goreng tidak terus mengalami kenaikan, karena akan berdampak pada pedagang kecil dan konsumen kelas menengah ke bawah.

*) Penulis adalah staf BPS Tebo

 

 

 

 


Penulis: Lina Marliana
Editor: Joni Rizal


TAGS:


comments