Kamis, 26 Mei 2022

Hari Ibu Setiap Hari

Selasa, 21 Desember 2021 | 16:32:45 WIB


/

Oleh: Amri Ikhsan *)


KETIKA Rasulullah ditanya oleh sahabat, kepada siapakah saya harus berbuat baik?

Rasulullah menjawab : “ Ibumu “.
Kepada siapa lagi Wahai Rasulullah ? “ Ibumu ”
Kepada siapa lagi Wahai Rasulullah ? “ Ibumu ”
Kepada siapa lagi Wahai Rasulullah ? “ Ayahmu ”

Tanpa mengecilkan peran seorang ayah, ibu adalah tokoh sentral dalam membina keberhasilan seorang anak. Ibulah orang pertama dan utama yang telah berjasa besar, berkorban, bekerja keras dan berdo’a untuk anaknya. Tanpa semuanya itu, apapun kehebatan, kepintaran kita, hampir tidak mungkin kita bisa menikmati kesuksesan. Kehidupan anak yang sukses terdapat keberkahan dan ridlo dari Allah SWT. “Ridhanya Allah bergantung pada ridhanya kedua orang tua, dan murkanya Allah juga bergantung pada murkanya orang tua” (Hadits).

Kesabaran seorang Ibu tidak perlu diragukan lagi, bahkan kita tidak akan pernah menemukan sebuah kesabaran yang hakiki selain kesabaran yang dimiliki oleh seorang ibu. Apapun kekhilafan dan kesalahan yang pernah kita buat, inshaallah akan selalu dimaafkan oleh ibu kita. Ampunan dan maaf dari ibu jauh lebih besar dari kesalahan yang kita perbuat.

Seberapa sakit hati ibu terhadap anaknya, suatu hari nanti, maka kesabaran dan maaf dari ibu akan mampir ke telinga kita. Sedalam apapun jurang pemisah antara anak dan ibu, beliau tetap merindukankan anaknya. Seberapa jauh kita melangkah pergi, beliau dengan sabar menunggu kehadiran kita. Tidak ada kata ‘balas dendam’ di hati seorang ibu.

Kita harus mengakui bahwa jasa-jasa ibu sungguh memang tak terhingga, dan dipastikan kita tak akan dan tak akan sanggup membalasnya, dan seberapa besar pun kita mencintai ibu kita, merindukan ibuk kita, belum seberapa jika dibandingkan dengan cinta dan rindu ibu pada diri kita.

Cinta ibu pada anaknya adalah cinta tanpa mengharapkan apapun. Cinta ibu kita adalah cinta tanpa syarat yang tak memperdulikan apa dan bagaimana pun cinta anaknya. Yakinlah bahwa cinta dari seorang ibu adalah cinta sejati yang suci dan tak tercampur dengan hal apapun, maka beruntunglah kita yang bisa merasakannya cinta sejati.

Oleh karena itu, tak seorang pun yang akan menyangkal bahwa orang yang paling berjasa dalam hidup ini adalah ibu, orang yang melahirkan kita. Dialah yang membentuk karakter kita, memberi warna kehidupan kita, kesuksesan kita akan sangat tergantung pada ridhonya.

Diyakini setiap agama, adat, tradisi selalu menempatkan ‘ibu’ pada posisi terhormat. Tentu saja, kondisi ini dilatar belakangi oleh peran ibu yang begitu besar dalam kehidupan keluarga. Ketegaran ibu dalam sebuah keluarga merupakan ‘sinyal’ kekompakan dan kehormanisan keluarga itu.

Secara alamiah dan fisiologis, penciptaan ibu adalah untuk melakukan tugas penting dalam berreproduksi untuk menjaga kelangsungan manusia dan dengan penuh kerelaan merasakan kesulitan saat mengandung dan melahirkan, menyusui, merawat dan menyayangi anak sampai tumbuh dan sanggup menjaga dirinya.

Peran ibu sebagai orang pertama yang menyentuh kita dengan kelembutan dan kasih sayangnya. Ibu pulalah yang mengalirkan Air Susu Ibu (ASI), makanan kita untuk pertama kalinya. Dengan senyum kebahagiaannya ibu mengajak bicara dan bercanda. Begitu kita menginjakkan kaki ke tanah, ibu pula yang membimbing menapakkan kaki.

Jadi, jasa seorang ibu memang patut dihargai. Umumnya seorang ibu itu tidak putus-putusnya bekerja untuk keluarganya dan boleh dikatakan dia seperti tidak punya waktu untuk dirinya sendiri. Sebagai seorang ibu, dia tanpa disuruh akan bertanggung jawab secara ikhlas untuk keluarga dan anak-anaknya. Bangun di tengah malam saat anaknya menangis minta susu ataupun basah, bibirnya akan bergetar dengan doa dan matanya akan berusaha tetap terjaga walaupun kantuk menyerang karena letih dan lelah semalaman menjaga anaknya yang sakit.

Ibu, sosok ini begitu besar jasanya bagi setiap insan di dunia, bahkan sejak mereka dilahirkan. Kehadirannya bak penenang dalam ruang kebingungan, bak penyemangat dalam keputusasaan, bak penawar kala rindu menyengat. Saking kuatnya kasih sayang itu, sampai-sampai pedang paling tajam di dunia (waktu) tak mampu menebasnya.

Ibu adalah orang yang paling pertama marah ketika anaknya berlaku nakal, paling pertama menasihati ketika anaknya berlaku tidak baik. Ibu hanyalah sesosok wanita yang berusaha keras menghindarkan anaknya dari keburukan. Ingatlah juga bahwa ibu lah sosok wanita pertama yang akan sedih, menangis, sekaligus berusaha menguatkan apabila anak-anaknya mengalami kegagalan.

Ibu akan menjadi wanita pertama yang membela mati-matian anaknya di depan orang banyak. Namun tidak lupa untuk mengingatkan jika anaknya lakukan kesalahan. Ibu akan menjadi wanita pertama yang siap mendengarkan keluh kesah anaknya. Namun tidak lupa untuk tetap membangkitkan semangat kepadanya.

Tugas ibu, sungguh suatu tugas yang tidak ringan. Ibu adalah pendidik paling utama bagi manusia, cukup berat menuntut rasa tanggung jawab yang tidak ringan. Berhasil tidaknya generasi yang ideal ada di tangan kaum ibu. Tidaklah berlebihan apabila Rasulullah SAW memberi penghargaan terhadap kaum ibu: "Surga itu berada di bawah telapak kaki para ibu. Sebuah penghormatan besar dari Allah untuk seorang ibu yang dengan ikhlas dan cerdas mendidik anak-anaknya.

Peradaban manusia bermula dari tangan seorang ibu. Ibu adalah sekolah pertama bagi manusia yang dilahirkannya. Dari ibulah, seorang anak belajar tentang nilai-nilai dasar kehidupan. Karena kemuliaan hatinya membuat menusia menjadi beradab, mengenal Tuhan, berkarakter baik, berbicara santun dan akhirnya menjadi insan kamil.

Dengan demikian, sempat sempatkanlah walau sejenak untuk bertemu atau menghubungi ibu. Selalu ingatlah bahwa suara dan kehadiranmu sangat diharapkan ibumu. Kehadiran dan suaramu membuat ibumu bahagia.

Menghargai ibu itu tidak ada dimensi waktu, Menghormati ibu jangan menunggu nunggu waktu. Hari untuk ibu itu setiap hari, bukan satu hari saja.

*) Penulis adalah Pendidik di Madrasah


Penulis: Amri Ikhsan
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments