Selasa, 24 Mei 2022

5 Tahun Metro Jambi dan Adaptasi Baru

Kamis, 06 Januari 2022 | 08:06:45 WIB


/

Joni Rizal (Direktur Utama/Pemimpin Redaksi Metro Jambi)

MANAKALA pemerintah mengintroduksi jargon “new normal” di tengah pandemi Covid-19, orang-orang belajar beradaptasi. Menyerap budaya baru: pakai masker setiap saat, cuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer secara berkala, menjaga jarak sosial, dan lain sebagainya.

Muncul konsekuensi logis pada banyak sektor. Jaga jarak menyebabkan aktivitas pendidikan, usaha, dan layanan pemerintahan berubah secara radikal. Sekolah buka-tutup, offline-online, kantor-kantor dibatasi, bahkan di-lockdown bila ada kasus Covid-19.

Ekonomi anjlok. Badan Pusat Statistik mencatat, pada 2019, di masa-masa awal Covid-19, pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di angka 5,02 persen. Lalu, pada 2020, terkontraksi alias minus 2,07 persen.

Ngerti atau tidak ngerti dengan statistik, orang-orang cemas, dicekam ketakutan akan kesulitan hidup. Dihantui kesimpulan: pandemi adalah paceklik. 

Debat Indonesia di ambang atau memasuki masa resesi menghangat, yang segera tenggelam –mungkin karena pengamat dan para pengambil kebijakan juga sibuk mencegah diri tertular Covid-19.

Pemerintah memangkas anggaran ini itu, di-refocusing; dibelanjakan hanya untuk penanganan Covid-19 atau hal-hal terdampak Covid-19. Tidak ada ampun.

Banyak proyek tidak jalan, yang berdampak negatif pada banyak lini bisnis dan aspek sosial. Mulai dari penjualan toko bangunan yang anjlok hingga ke pekerja kasar yang menganggur. Mal dan taman bermain bak kuburan.

Banyak lembaga meng-hold anggaran dan membatalkan kegiatan. Media turut menjadi korban.

Di masa-masa awal memimpin Metro Jambi dan Metrojambi.com, saya mendapat banyak jawaban dengan frasa klise: anggaran publikasi dipangkas.

Apalah daya. Covid-19 menyerang ketika bisnis media meredup. Lah terjerungap ketimpo kayu. Begitu ibaratnya.

Manajemen media Grup Metro Jambi, media yang baru seumur jagung ini, harus memutar otak. Mau dibawa kemana koran ini agar tidak kian dalam penderitaan?

Ada masa di mana bos-bos media berlomba-lomba membuka koran-koran daerah demi mendukung dan membentengi induknya unjuk kebesaran. Ada pula masa di mana koran-koran beradu kiat menggarap anak muda milenial agar memiliki pembaca masa depan.

Ada masa dimana media berebut menjadi penyelenggara event, mulai dari marathon 10 K, balap sepeda, panjat pinang, hingga ke pemilihan putri-putrian. Ada pula masa di mana media daerah berebut mengadakan pemilihan guru favorit, guru populer, dan lain sebagainya.

Ada masa media cetak berlomba-lomba mencetak koran dalam jumlah halaman yang banyak untuk menunjukkan kebonafidan. Kemudian datang masa semua media cetak memiliki media online.

Namun, ada masa di mana semua strategi bertahan media cetak itu kembali dipertanyakan: Setelah ini apa lagi? Masa itu ke itu terus, tidak move on dari strategi lama itu?

Di tengah masa bertanya-tanya itu, di bawah ancaman pandemi Covid-19, saya berjumpa kearifan Charles Darwin.

“It is not the strongest of the species that survives, nor the most intelligent that survives. It is the one that is the most adaptable to change”. Kata Darwin, si Bapak Teori Evolusi itu, bukan spesies terkuat dan paling cerdas yang bertahan hidup; (tapi) dia yang paling mudah beradaptasi dengan perubahan.

“Most adaptable” dan “change”  adalah koentji.

Bagi Metro Jambi, resah di tengah derasnya arus informasi media sosial adalah new normal. Orang yang tidak resah tidak adaptable dan karena itu tidak mampu meninggalkan satu milestone untuk meloncat ke batu loncatan berikut.

Adaptasi bukan meninggalkan diri dan jiwa (yang lama) –bukan bunuh diri. Adaptasi, mengacu ke teori evolusi Darwin, adalah tetap menjadi makluk, apa pun bentuknya.

Mau jerapah leher pendek atau musang berbulu ayam, yang penting tetap jerapah dan tetap musang yang bertahan hidup. Survive.

Adaptasi adalah menyesuaikan diri. Itulah sebabnya Harian Pagi Metro Jambi tetaplah koran yang terus dicetak bagi para pembaca setianya dan Metrojambi.com adalah media online dengan berita yang sering trending nomor satu.

Lebih dari itu, Metro Jambi “main” ke ranah digital. Versi paperless-nya ada di aplikasi MyEdisi, bisa dibuka dengan cara men-scan kode QR pada halaman mukanya atau mengklik menu Digital Interaktif di Metrojambi.com.

Versi Android MyEdisi bisa diunduh di PlayStore.

Lewat MyEdisi, pembaca kini mendapat “kiriman” koran Metro Jambi lebih pagi.

Sehingga, new normal juga membawa koran lebih dalam ke ruang pribadi. Bila sebelumnya Metro Jambi diantar sampai di taman dan teras rumah, atau meja kerja kantor, kini bermodal ponsel Android, Metro Jambi bisa diakses dari tempat tidur.

Ada MetrojambiTV di Instagram dan Youtube, agar Anda yang lebih suka menyimak berita lewat video tidak ketinggalan. Lewat berbagai platform, koran Metro Jambi, Metrojambi.com dan MetrojambiTV kini berada dalam satu genggaman. Bersamaan pula.

Kami belajar memperkuat konten. In-depth reporting  hadir pada setiap edisi, menjadi pembeda dengan media lain. Mengusung tagline “Beda & Eksklusif”, kami membawa semangat jurnalisme mendalam sebagai ciri khas media cetak.

Dan, benar. Di usia semuda ini, Metro Jambi belumlah kuat dan masih jauh dari pintar. Tapi kami beradaptasi. Inilah yang kami rayakan pada hari ulang tahun ke 5 yang betepatan dengan ulang tahun ke 65 Provinsi Jambi.

Jayalah Metro Jambi, mantablah negeri Jambi!


Penulis: Joni Rizal
Editor:


TAGS:


comments