Minggu, 22 Mei 2022

Agroforestri Solusi Pengayaan Perhutanan Sosial

Rabu, 26 Januari 2022 | 09:55:51 WIB


Rapat anggota KTH Padukuhan Mandiri,  Desa Suo Suo, Tebo.
Rapat anggota KTH Padukuhan Mandiri, Desa Suo Suo, Tebo. / ist/Ho

Agroforestri Solusi Pengayaan Perhutanan Sosial

MUARATEBO - Masyarakat Desa Suo Suo, Kecamatan Sumay, Kapupaten Tebo, awalnya tidak mengetahui areal yang mereka tanami sawit adalah kawasan hutan.  Untungnya negara memberi solusi masyarakat yang berada dalam kawasan hutan dengan peluang perhutanan sosial.

Dengan status kawasan hutan produksi, masyarakat mengajukan skema Hutan Tanaman Rakyat dan memperoleh izin usaha pemanfaatan kayu hutan (IUPHK) pada kawasan yang sudah dikelola. Pengelolaan lahan seluas 85 hektar ini di bawah naungan KTH Padukuhan Mandiri.  

Sesuai peraturan IUPHK, tidak diizinkan menanam sawit di areal HTR. Namun, bagi KTH yang sudah terlanjur menanam sawit dan komoditi lainnya perlu melakukan pengayaan dengan tanaman kehutanan minimal 100 batang tanaman kehutanan dalam 1 hektar areal izin.

KKI Warsi yang melakukan pendampingan pada masyarakat desa ini memfasilitasi masyarakat mengelola kawasan sesuai peraturan dan mendapatkan manfaat dari pengelolaan tersebut.  

“Anggota KTH sudah memahami jika tidak dibenarkan menanam tanaman tersebut dan berkomitmen untuk melakukan pengayaan tanaman kehutanan. Namun, untuk mengganti tanaman memang harus bertahap,” ungkap Supradilah, Ketua KTH Padukuhan Mandiri.

Masyarakat sudah menanam sawit sebelum izin didapatkan pada 2018 lalu. Untuk pengayaan tanaman dalam kawasan HTR tersebut, KKI Warsi bersama masyarakat sudah melakukan pemetaan perkebunan dan melihat peluang untuk adanya pengembangan agroforest.

Hasil pemetaan ini dibahas bersama seluruh anggota KTH pada Selasa (26/1) lalu. “Kita memfasilitasi masyarakat untuk mengelola kawasan hutan sesuai dengan ketentuan yang berlaku, supaya masyarakat bisa mengelola kawasan mereka dengan baik dan tidak menimbulkan konflik dikemudian hari,” kata Fasilitator KKI Warsi Teguh Al Ikhsan.

Selain itu, harapannya masyarakat mampu dan mandiri dalam mengelola area perhutanan sosial dan meningkatkan ekonominya sekaligus mencegah ekspansi perusahaan pemegang konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI) ke area perhutanan sosial.   

Dengan pengelolaan yang sudah dilakukan, masyarakat masih berpeluang meraih manfaat secara utuh dengan mengelola kawasan sesuai dengan aturan. Pengayaan tanaman adalah solusi atas kondisi yang saat ini dihadapi KTH Padukuhan Mandiri.

Dalam kegiatan ini, disampaikan hasil pemetaan dengan drone quadcopter, yang  dapat melihat pola ruang dan jarak tanam di KTH Padukuhan Mandiri.  “Mapping drone merupakan kemajuan menurut saya. Ini menandakan keseriusan kita dalam pengelolaan di area HTR,” kata Heri, penyuluh dari  KPHP Tebo Timur.

Dari pemetaan terlihat pola dan jarak antara satu batang sawit dengan sawit lainnya. Ada pola tanaman rapat dan ada penanaman yang memiliki jarak yang cukup renggang. Hasil peta tersebut dapat menjadi acuan untuk pola penanaman tanaman agroforestri.

Masyarakat juga diberi pemahaman penanaman tanaman lain di area yang sudah terlanjur di taman sawit dapat memperbaiki unsur hara tanah. Sehingga tidak hanya sawit, tanaman  agroforestri juga dapat tumbuh dengan baik.

“Kita tidak menumbang sawit yang ada, tanaman sawit dibiarkan, namun kita menanam tanaman campur sesuai aturan. Tanaman hutan kayu selain memperbaiki unsur hara, tetapi juga meningkatkan perekonomian,” papar Lili, Forester KKI Warsi.

Lili juga merekomendasikan jenis tanaman agoroforestri, seperti petai, sengon, gaharu, durian, pinang, kopi, lada, dan jahe. Survei dan pemetaan drone serta analisis pola tanaman yang dilakukan kemudian menjadi acuan untuk penyusunan rencana kerja tahunan KTH Padukuhan Mandiri pada tahun 2022 ini.(*)


Penulis: */
Editor: Joni Rizal



comments