Minggu, 27 November 2022

Refleksi Hari Bumi: Ketika Orang Rimba Kehilangan Budaya

Jumat, 22 April 2022 | 11:13:51 WIB


Orang Rimba di perkebunan sawit.
Orang Rimba di perkebunan sawit. / ist/Ho

Nyumbo dan suaminya Ngamben bersiap menyambut kelahiran anak kedua mereka dua bulan lalu. Harusnya sebulan menjelang melahirkan mereka sudah harus pindah ke tanoh peranoon, tanah yang ditunjuk oleh dukun--pihak yang dipercaya untuk membantu proses kelahiran, yang dianggap paling tepat untuk melahirkan bagi perempuan rimba.

Ini sesuai tradisi yang diwariskan nenek moyang, tradisi yang sudah berjalan sejak lama, ketika rumah mereka masih berupa hutan belantara.

Tanah penaronoon biasanya dekat dengan air sungai yang jernih, dikelilingi pohon yang mampu melindungi orang di dalamnya. Juga ada pohon-pohon yang dibutuhkan sebagai penanda bayi yang akan dilahirkan, yaitu tenggeris dan sentubung. Tenggeris adalah pohon yang tinggi menjulang, besar dan keras.

Pemilihan kayu ini mempunyai harapan agar anaknya bisa hidup tegak, kuat dan menjulang. Setiap individu punya kayu tenggeris sendiri, tidak boleh bersama. Karena kayu ini akan menjadi perlambang bayi dan kehidupan masa depannya.

Hubungan bayi dan pohon ini dihubungkan ketika kulit kayu ini dikikis dan kemudian dibalurkan ke kepala bayi. Pantang bagi Orang Rimba untuk menumbangkan pohon tenggeris. Karena itu artinya sama dengan membunuh manusia yang menempel dengan pohon tersebut.

Makanya kesalahan atas penumbangan pohon tenggeris sama hukumnya dengan membayar denda menghilangkan nyawa orang lain senilai 600 lembar kain. Pun demikian dengan pohon sentubung. Pohon sentubung biasanya pohon yang lebih kecil dan dibawahnya di tanam ari-ari bayi. Pohon ini pun fungsinya juga perlambang nyawa bayi, dan diperlakukan sama dengan tenggeris, pantang untuk ditebang.

Makanya di dalam rimba setiap pohon tenggeris dan sentubung  ini di tandai  sehingga tidak ada alasan untuk tidak tau kalau ini pohon terhubung dengan manusia.

Namun apa daya, kini bagi sebagian Orang Rimba tradisi ini menjadi sulit untuk di jalankan. Sebagaimana yang dirasakan  Nyumbo dan suami, dan anggota Kelompok Tumenggung Mariau. Sudah lebih dari 25 tahun ini kehilangan hutan mereka berganti dengan perkebunan kelapa sawit, di desa Bukit Suban Kecamatan Air Hitam Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi.

Terpaksalah tanah peranaoon beralih di bawah batang-batang sawit. Belukar yang tumbuh di sana di jadikan sebagai pohon sentubung. Sedangkan kulit tenggeris yang dijadikan sebagai perlambang bayi, tidak ada lagi. Tradisi tergerus seiring tergerusnya hutan.

“Pohonnya sodah ilang, mumpa manolah kamia ndok ngabik kulitnyo, tepasolah hopi ado tenggeris budak iyoy, (Pohonnya sudah hilang, bagaimanalah kami mau mengambil kulitnya, terpaksalah tidak ada lagi tenggeris sebagai penanda bayi ini),” kata Tumenggung Mariau, dukun yang membacakan dedekorin (doa) untuk menolong kelahiran. Sedangkan untuk membantu persalingan dibantu Meliyau yang juga merupakan ibu Nyumbo.

Bagi Orang Rimba, kehilangan dan ketiadaan pohon tenggeris dan sentubung adalah kehidupan tanpa harapan. Hutan yang melekat sebagai jati diri Orang Rimba, kehilangan hutan bisa juga bermakna kehilangan kehidupan.

Kehidupan Orang Rimba selaras dengan alam, mereka merawat alam dengan adat dan budaya. Setiap nyawa Orang Rimba selalu diasosiasikan dengan pohon, yang didapatkannya semenjak lahir. Kondisi ini ada ketika hutan rimba masih berjaya, menjadi rumah yang ramah untuk warga di dalamnya.

Sayangnya keadaan tidak selalu sama.  Apa daya suku ini terpaksa hidup di rumah  mereka yang sudah menjadi kebun monokultur, sehingga tradisi yang diwariskan nenek moyang tidak lagi berjalan sempurna, dan nyaris kehilangan makna. Kondisi dialami oleh lebih dari  900 keluarga Orang Rimba tinggal di dalam perkebunan sawit dan akasia.

“Mereka terpaksa hidup di dalam kebun sawit dan akasia karena memang disitulah rumah mereka sejak dulu, hutan yang menjadi tempat mereka hidup,” kata Anggun Sastika Antropolog Warsi.

Dikatakan Anggun setiap unsur kehidupan Orang Rimba selalu berkaitan dengan hutan. Ritual-ritual yang menjadi ciri hidup mereka selalu berkaitan dengan hutan. Dari pernikahan mereka melangsungkan acara dengan namanya berbalai.

Acara ini membutuhkan banyak sekali banyak bunga-bunga dari hutan. Acara melahirkan juga membutuhkan hutan, sampai ke kematian Orang Rimba butuh hutan. Hutan menjadi identitas suku yang hidup semi nomadik ini.

Menipisnya hutan berdampak pada kehilangan adat dan budaya. “Bisa-bisa terjadi geger budaya,”kata Anggun.

Geger budaya ini, bagi sebagian komunitas lain mungkin bisa diatasi dengan cara adaptasi yang lebih baik dan berlangsung smooth.

“Caranya dengan membuka ruang pada komunitas ini, memberi mereka keleluasaan untuk beradaptasi atas perubahan itu, dengan pola baru yang bisa mereka jalankan. Kalau hari ini, kebiasaan atau tradisi lama mereka tidak bisa berjalan, sementara bagaimana dengan adaptasi dengan perubahan itu Orang Rimba masih kebingungan,” kata Anggun.

Tugas kita bersamalah untuk membantu Orang Rimba melakukan adaptasi dan menghadapi perubahan tersebut. “Termasuk dengan memulihkan hutan mereka dan mengakui hak-hak dasar mereka sebagai bagian dari warga negara,” kata Anggun.

Kata Anggun, momentum Peringatan Hari Bumi, merupakan langkah tepat untuk berbuat bagi penyelamatan hutan dan sumber penghidupan Orang Rimba. “Moment hari bumi ini hendaknya menjadi titik balik kita semua untuk berpikir tentang nilai-nilai kemanusiaan, menghargai kehidupan suku yang bergantung dengan sumber daya alam. Sikap ini akan sejalan dengan upaya bersama untuk mencegah atau paling tidak memperlambat bumi dari kerusakan,” kata Anggun.(*)


Penulis: */
Editor: Joni Rizal



comments