Senin, 15 Agustus 2022

Sampah Dibuang ke TNKS Cemari Lingkungan, Pemkot Sungaipenuh Dikecam

Senin, 06 Juni 2022 | 07:28:27 WIB


/ ist

 SUNGAIPENUH - Balai  Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) menyesalkan pembuangan 17 truk sampah di pinggir jalan raya Sungaipenuh-Tapan. Sampah-sampah tersebut diduga dibuang oleh Pemkot Sungaipenuh.

Tudingan ke Pemkot Sungaipenuh bukan tanpa alasan. Sejumlah warga sebelumnya menolak wilayah mereka dijadikan lokasi pembuangan sampah oleh Pemkot, yakni di Renah Kayuembun (RKE) dan Km 14 jalan Sungaipenuh-Tapan.

Panik sampahnya menumpuk, petugas menumpahkannya di pinggir jalan Km 14 yang masuk kawasan taman nasional yang selama ini disebut sebagai paru-paru dunia itu. Ironisnya, kasus ini menyeruak pada peringatan Hari Lingkungan Hidup, Minggu (5/6).

Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I TNKS Kerinci Nurhamidi saat dikonfirmasi membenarkan adanya tumpukan sampah di pinggir jalan Km 14 tersebut. Dia pun menduga pelakunya adalah petugas sampah Pemkot Sungaipenuh.

“Itu baru dugaan karena kami masih mengumpulkan bukti-bukti. Mereka membuang (sampah, red) sekitar pukul 02.00 WIB dini hari,” terangnya, Minggu (5/6).

Ditanya jumlah sampah yang dibuang ke dalam TNKS itu, Nurhamidi tidak bisa memastikan. “Kalau dari hasil investigasi kawan-kawan di lapangan, jumlahnya sekitar 17 truk,” sebutnya.

Walikota Sungaipenuh Ahmadi Zubir tidak merespons permintaan wawancara Metro Jambi. Dihubungi melalui WhatsApp, Ahmadi tidak menjawab.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Sungaipenuh Wahyu Rahman Dedi juga menolak memberikan keterangan. Seperti Ahmadi, Wahyu juga tidak menjawab pesan WhatsApp Metro Jambi walau terlihat online.

Nurhamidi sangat menyayangkan aksi memalukan yang bisa menimbulkan kerusakan hutan dan mencemari lingkungan ini. “Ini dilarang oleh undang-undang dan dapat dikenakan sanksi,” pungkasnya.

Sampah menjadi masalah serius di Sungaipenuh. Awalnya Pemkot membuang sampah ke TPA RKE di Kecamatan Kumun Debai. Namun, warga menolak dan memblokir jalan menuju TPA itu.

Mereka memegang janji Pemkot melalui surat yang ditandatangani oleh Wakil Wali Kota Alvia Santoni. Alvia menyatakan, Pemkot akan menghentikan pembuangan sampah di TPA RKE terhitung sejak 31 Mei 2022.

Selain itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyebut lokasi TPA di RKE masuk kawasan hutan produksi. Seluruh aktivitas yang merusak hutan produksi dilarang, termasuk membuang sampah ke dalamnya.

Alternatifnya adalah Km 14 yang selama ini ditetapkan sebagai tempat pengolahan sampah terpadu (TPST). Namun, kali ini giliran warga empat desa di Belui, Kecamatan Depati Tujuh, Kabupaten Kerinci, yang protes.

Mereka protes karena kawasan sekitar TPST itu adalah kebun dan ladang mereka. Mereka terganggu dengan keberadaan dan bau sampah yang menguar dari TPST tersebut. Selain itu, sumber air bersih mereka juga tercemar.

Pada 3 Juni 2022, Pemkot Sungaipenuh mendatangi tokoh-tokoh Belui. Hadir empat kepala desa di Belui, ketua adat Tiga Luhah Belui, ketua pemuda dan tokoh masyarakat empat desa. 

Kepada tim Pemkot, warga empat desa Belui tetap menolak pembuangan sampah ke lokasi yang selama ini dikenal dengan sebutan Puncak itu. Penolakan ini sebelumnya sudah mereka sampaikan ke Pemkot dan DPRD Sungaipenuh.

“Seluruh elemen yang ada di Belui menolak keras upaya negosiasi terhadap tanah ulayat adat Tigo Luhah Belui,” kata Ketua Umum HMI Kerinci-Sungaipenuh Fengki, juga tokoh muda Belui.

Ketua DPRD Kota Sungaipenuh Fajran menyarankan Pemkot Sungaipenuh melakukan pendekatan persuasif dengan masyarakat. Karena hanya ada dua tempat pembuangan, yakni TPA RKE dan TPST Km 14, dia menyarankan Pemkot harus fokus ke sana.

“Kalaupun ada alternatif lain, saya khawatir ini akan memunculkan persoalan-persoalan baru,” tambahnya.


Penulis: Dedi Aguspriadi
Editor: Joni Rizal


TAGS:


comments