Senin, 15 Agustus 2022

PMK Sapi Meluas, Stok Hewan Kurban Dikhawatirkan Berkurang

Kamis, 09 Juni 2022 | 08:25:36 WIB


Ilustrasi
Ilustrasi / Antara

 JAMBI - Puluhan ekor sapi di Provinsi Jambi dinyatakan positif mengidap penyakit mulut dan kuku (PMK). Jumlah itu tersebar di lima kabupaten dan kota. Pemerintah mengkhawatirkan anjloknya stok hewan kurban.

Berdasarkan data dari Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan (TPHP) Provinsi Jambi per Selasa (7/6) jumlah sapi dengan PMK mencapai 12 ekor. Terbanyak ditemukan di Kota Jambi, yakni lima ekor.

Dirincikan, di Batanghari dilaporkan tiga ekor yang positif, Sarolangun dua ekor dan di Tanjab Barat serta Muarojambi masing-masing satu ekor.

“Satu ekor yang di Tanjabbar sudah mati,” ujar Kepala Dinas TPHP Ahmad Maushul kepada Metro Jambi.

Sapi-sapi yang terjangkit PMK itu, kata Maushul, kini sedang diobati yang diawasi oleh dinas peternakan di masing-masing kabupaten dan kota. “Dalam masa pengobatan diberi vitamin agar kondisi sapi membaik dan bisa dipotong,” tambahnya.

Menindaklanjuti temuan kasus PMK ini, Pemprov membentuk satuan tugas (satgas) yang akan memantau langsung di setiap daerah. “Satgas ini tetap bekerja sama dengan daerah mengingat ini berurusan langsung dengan peternak di desa,” katanya.

Pemerintah di masing-masing kabupaten memiliki data terbaru sapi yang terpapar PMK –berbeda dari data Pemprov. Sekretaris Dinas Peternakan dan Perikanan (Diskannak) Sarolangun Asnawi menyebut di daerahnya terdapat 12 kasus sapi PMK.

“Data terbaru kita ada 12 sapi yang terjangkit. Ini di Kelurahan Sukasari, Kecamatan Sarolangun,” kata Asnawi, Rabu (8/6). Sebelumnya juga sudah ditemukan 10 kasus di Kecamatan Singkut.

Dijelaskan Asnawi, awalnya hanya dua sapi yang dinyatakan positif PMK sesuai hasil pemeriksaan labor Balai Karantina Bukittinggi. “Kemudian bertambah empat terjangkit, dan kini bertambah jadi 12,” katanya.

Asnawi mengatakan bahwa pihaknya meminta para dokter hewan untuk sigap mengisolasi hewan-hewan yang terdeteksi terjangkit PMK.

“Sekarang kita kejar bola ke lapangan. Jika ada informasi langsung dipantau. Dua belas ekor sapi yang terpapar juga belum ada yang mati dan masih dalam perawatan,” jelasnya.

Dengan kondisi ini, Asnawi menghawatirkan ketersediaan stok hewan sapi kurban di pasaran jelang Idul Adha. Setiap tahun Sarolangun membutuhkan 1.800 ekor sapi dan akan terancam jika PMK masih menjangkit.

“Sebab, dari yang ada ini belum tentu semuanya bisa dikurbankan. Dikhawatirkan untuk kurban stok akan berkurang,” pungkasnya.

Di Tanjab Timur, per Rabu (8/6) tercatat sebanyak 10 sapi yang terindikasi terjangkit PMK. Sekda Tanjabtim Sapril mengatakan, indikasi itu diketahui dari laporan dari para peternak sapi di Kecamatan Geragai.

Sapril mengatakan, begitu mendapat laporan, pihaknya langsung menurunkan dokter hewan untuk melakukan pemeriksaan. Pihaknya juga berkoodinasi dengan Balai Karantina Bukittinggi untuk pengambilan sampel dari hewan yang terindikasi.

“Insya Allah dalam beberapa hari ke depan, pihak Balai Karantina Bukittinggi sudah berada di sini,” kata Sapril saat diwawancarai sejumlah awak media di Muarasabak, Rabu (8/6).

Kini 10 ternak tersebut sedang diisolasi. Petugas dari Dinas Perkebunan dan Peternakan juga menyemprotkan desinfektan ke seluruh kandang. Dia berharap hasil pemeriksaan oleh tim Balai Karantina nantinya negatif.

Untuk mengantisipasi masuknya virus PMK ini, Pemkab Tanjabtim mewajibkan pedagang dan peternak menunjukan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKH) saat membawa ternak dari luar daerah.


Penulis: Pratiwi Resti Amalia/Mario Dwi Kurnia/Nanang Suratno
Editor: Joni Rizal


TAGS:


comments