Kamis, 11 Agustus 2022

Nelayan Tanjabbar dan Tanjabtim Kekurangan Es Batu

Selasa, 07 September 2021 | 08:47:52 WIB


/ Metrojambi.com

 JAMBI - Nelayan di Kabupaten Tanjungjabung Barat (Tanjabbar) dan Kabupaten Tanjungjabung Timur (Tanjabtim) saat ini kekurangan es batu untuk mendinginkan ikan hasil tangkapan.

Kabid Pengelolaan Ruang Laut dan Perikanan pada Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jambi, Dodi mengatakan, dalam sehari nelayanan di dua kabupaten tersebut membutuhkan sekitar 2.000 balok es batu.

Adapun produksi es balok di wilayah Nipah Panjang, Kabupaten Tanjabtim hanya 315 balok sehari. Sedangkan produksi es balok di Kualatungkal, Tanjabbar sehari hanya 240 balok.

"Tidak tercover kalau dibandingkan dengan kebutuhan es balok dari nelayan per harinya," kata Dodi, Selasa (7/9).

Menurut Dodi, dalam sehari kebutuhan balok es di masing-asing kabupaten idealnya 1.000. Artinya, untuk dua kabupaten tersebut para nelayan membutuhkan 2.000 batang es balok perharinya.

"Untuk sebagian nelayan di wilayah Nipah Panjang kebutuhan es baloknya dalam sehari bisa mencapai 569 balok. Belum lagi wilayah sekitarnya. Sementara di wilayah Kuala Tungkal kebutuhan es balok nelayan mencapai 500 balok," katanya.

Dikatakannya lagi, Pemerintah Provinsi Jambi melalui Dinas Kelautan dan Perikanan berupaya untuk mengajukan pembangunan pabrik es batu melalui dana DAK pada Kementrian Kelautan dan Perikanan RI namun tidak dapat direalisasikan akibat adanya pandemi Covid-19.

"Pernah mengajukan untuk pembangunan pabrik es balok ke pusat dan diacc pada tahun 2020 lalu. Namun pada kenyataannya tidak dapat direalisasikan akibat adanya pandemi Covid-19. Setiap tahunnya akak kita ajukan terus untuk pembangunan pabrik es balok tersebut," kata Dodi.

Untuk anggaran dana pembangunan pabrik es balok tersebut, pihak Dinas Kelautan dan Perikanan mengajukan dana sebesar Rp 2,5 miliar. "Rencananya di Tanjabbar. Sampai saat ini nelayan disana masih kekurangan es balok. Walaupun tertutupi oleh pihak swasta," beber Dodi.

Saat ini, pabrik es balok di dua kabupaten tersebut hanya ada dua, sebelumnya ada tiga pabrik. Namun satu diantaranya tidak beroperasi lagi karena rusak berat. Untuk satu pabrik es balok idealnya dapat memproduksi 500 batang es balok.

"Yang satu memproduksi 300 es balok dan satu pabrik lagi 500 batang per hari," ujarnya.

Dengan demikian, Dodi pun berharap kepada pihak swasta agar lebih aktif, sehingga dapat memenuhi kebutuhan es balok para nelayan.

"Berharap pihak swasta aktif. Dan itu sebenarnya menguntungkan, akan tetapi diperlukan investasi yang besar. Kalau berharap dari dana pemerintah kita tahu sendiri kondisi keuangan apa lagi dua tahun ini, memang parah betul," pungkasnya.


Penulis: Pratiwi Resti Amalia
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments