Kamis, 18 Agustus 2022

“Anak Saya Bukan Lesbi”

Korban Pernikahan Sejenis Melapor Lagi ke Polisi

Rabu, 29 Juni 2022 | 07:20:46 WIB


Korban pernikahan sesama jenis mendatangi Mapolresta Jambi, Selasa (28/6), untuk membuat laporan terkait kerugian materil akibat perbuatan pelaku
Korban pernikahan sesama jenis mendatangi Mapolresta Jambi, Selasa (28/6), untuk membuat laporan terkait kerugian materil akibat perbuatan pelaku / Metrojambi.com

 JAMBI - NA, warga Kota Jambi yang menjadi korban penyuka sesama jenis, Erayani (28) alias Ahnaf Arrafif, kembali melapor ke Polresta Jambi. Dia melaporkan kerugian materiil yang dideritanya.

NA datang ke Mapolresta Jambi bersama ibunya, didampingi pengacara, Diana Bahtiar. “Saya mendampingi korban dan ibu korban membuat laporan kembali atas perkara penipuan kerugian materiil,” ujar Diana, Selasa (28/6).

Mengenakan jilbab yang senada dengan bajunya, berwarna lembut, NA tampak selalu dekat ke pengacara dan ibunya, S. Dari balik jilbab dan masker yang dikenakannya, terbayang wajah manis perempuan 28 tahun itu.

Tampak para pengacara pendamping selalu memegang dan menggenggam tangan NA, memberikan semangat dan kekuatan kepadanya.

Usai melapor, S, ibu NA, membantah tudingan negatif yang mengarah kepada anaknya selama ini. Sejak kasus ini terungkap, banyak yang menyebut anaknya lesbian seperti Erayani. 

“Saya membantah itu semua. Anak saya normal, seperti perempuan yang lainnya. Saya yakin itu,” ujarnya.

Dia menegaskan bahwa dia dan anaknya adalah korban penipuan oleh Erayani yang kepadanya mengaku bernama Ahnaf Arrafif, seorang dokter lulusan Amerika.

“Saya tidak terima jika anak saya disudutkan. Anak saya sangat normal. Akibat itu, psikis anak saya tertekan,” jelasnya.

Ia berharap semua tuntutan yang disampaikan dalam laporan ke polisi dapat berlanjut ke proses hukum.

“Anak saya korban. Nama baik anak saya sudah rusak, dan pencemaran nama baik. Saya tidak terima itu. Anak saya juga dijadikan ATM oleh pelaku,” ungkapnya.

Sementara pengacara Diana Bahtiar mengisahkan bahwa sejak NA dan Erayani dinikahkan secara siri di rumah orang tua NA di Kenaliasam Bawah, Erayani kerap meminjam uang. Dia mengatakan uangnya untuk pengobatan ayah NA yang menderita stroke.

“Pelaku ini kerap meminjam uang korban dengan bujuk rayu. Tanpa banyak berbicara, dan tanpa sadar, korban langsung kasih uang itu kepada pelaku,” tambah Diana.

Kata Diana, kliennya memiliki sejumlah bukti, antara lain bukti belanja online dan bukti tarik tunai. Setiap kali transfer, tambah Diana, buktinya dikirim ke pihak lain.

Kerugian ditaksir lebih dari Rp 300 juta. “Kerugiannya itu cukup banyak. Selain uang, perhiasan ibu korban juga digadaikan. Sehingga korban ini merasa dirugikan,” bebernya.

Diberitakan sebelumnya, nama Ahnaf Arrafif heboh setelah dilaporkan oleh keluarga NA ke polisi. Awalnya, Ahnaf yang seorang perempuan asal Lahat, Sumatera Selatan, yang bernama Erayani, mengaku kepada NA dan keluarganya sebagai pria.

Karena tidak tahu, mereka menikah secara siri pada 18 Juli 2021 di rumah keluarga NA, Kenaliasam Bawah, Kotabaru, Jambi. Mereka dinikahkan oleh seorang kadi, disaksikan keluarga dan tetangga.

Saat menikah, Erayani tidak menunjukkan kartu identitas dengan dalih sedang dalam pengurusan perubahan. Dia mengaku seorang mualaf karena itu harus mengubah KTP. Dia juga mengaku seorang dokter dengan sederet gelar akademik.

Belakangan diketahui bahwa dia ternyata seorang perempuan bernama Erayani. Identitas asli ini terungkap setelah keluarga NA meminta dia membuka baju. Ibu NA curiga Ahnaf adalah perempuan.

Pengadilan sudah menyidangkan kasus pemakaian gelar palsu. Dia mengaku bergelar dokter lulusan New York, Amerika Serikat dengan gelar SpBS, SArt, ST, SH, dan SHum.

Sedangkan soal penipuan materi yang diderita NA belum diproses. Erayani kini ditahan di Rutan Polresta Jambi.

Di sisi lain, Diana Bahtiar juga menceritakan kondisi NA secara mental telah terganggu atas peristiwa yang menimpanya. “Psikis korban ini terganggu juga,” tegasnya.

Diceritakan, seusai menikah, NA dan Erayani sempat tinggal di Lahat. “Korban dan pelaku ini tinggal di sana selama empat bulan, di rumah tantenya,” ujar Diana. Selama disana, NA dikurung di dalam kamar.

NA juga tidak diberi makan secara layak. Kepada NA, Erayani mengaku menyekapnya karena “di luar berbahaya”. 

“Karena ada orang yang akan mengguna-mengguna korban,” tandas Diana menirukan kata-kata Erayani kepada NA.


Penulis: Ichsan
Editor: Joni Rizal


TAGS:


comments