Sabtu, 4 Februari 2023

Macet Batubara Kini 28 Jam; “Jangankan Kerjo, Ngantar Anak Sekolah pun Tidak Biso”

“Jangankan Kerjo, Ngantar Anak Sekolah pun Tidak Biso”

Selasa, 22 November 2022 | 07:15:45 WIB


/

MUARABULIAN - Kabar duka terus berdatangan dari lokasi macet angkutan batubara di sepanjang ruas jalan Batanghari-Kota Jambi. Seorang pasien yang sedang diangkut mobil ambulans diduga meninggal dunia saat terjebak macet.

Kabar beredar, pasien itu meninggal dunia di dalam ambulans saat terjebak macet di ruas jalan Durianluncuk-Muaratembesi. Informasi itu beredar luas di sejumlah media. Ambulans tersebut dikabarkan berbalik ke arah Sarolangun karena pasien yang dirujuk ke Jambi meninggal dunia.

Baca versi cetaknya disini

Sayangnya, polisi tidak bisa memberikan keterangan resmi soal kabar ini. “Kami juga susah bergerak,” ujar seorang sumber di kepolisian.

Menurut sumber Metro Jambi, kemacetan pada Selasa (21/11/2022) terjadi di sepanjang jalan dari Durianluncuk-Muaratembesi dan dari arah Mersam-Muaratembesi. Kendaraan dari arah Sarolangun dan dari arah Tebo menumpuk di simpang Km 5 Muaratembesi.

Padatnya lalu lintas juga terpantau di sepanjang ruas Muatembesi-Muarabulian. Di sepanjang jalan itu, nyaris tidak ada truk batubara yang bergerak.

Pantauan Metro Jambi di Desa Jebak sekitar pukul 16.30 WIB, arus kendaraan dari Sarolangun ke arah Muaratembesi nyaris tidak ada pergerakan. Kendaraan pribadi terperangkap di bagian tengah-tengah.

Kendaraan bermuatan batubara dari arah Sarolangun terperangkap di bahu jalan sebelah kanan. Lalu kendaran batubara tanpa muatan dari arah Muaratembesi mengular di sisi kiri jalan.

“Sudah 24 jam macetnyo. Sudah luar biasa. Biasanya macet cuma malam,” kata M Nuh, Sekretaris Desa Jebak kepada Metro Jambi, Selasa sore.

Menurut Nuh, sejak pagi sampai pukul 16.30 WIB kendaraan masih memadati ruas jalan di desa itu. Mobil-mobil di jalan sudah tidak bergerak lagi.

M Nuh berharap jalan alternatif yang dibangun TNI segera selesai  agar mobil pribadi bisa diarahkan melewati tersebut. “Mobil batubara kosong juga bisa diarahkan lewat situ,” ujar dia. 

Seorang warga Kerinci, Mawan, juga mengabarkan sudah terjebak macet di Muaratembesi selama 28 jam. “Saya dari jambi Minggu sore (20/11) sekitar pukul 4.00 WIB dan sampai sekarang Senin (21/11) pukul 19.30 WIB masih di sini (Tembesi),” katanya.

Dia mengatakan ada ribuan mobil terjebak di jalan tersebut. Posisi mobil sudah empat lapis. “Tidak bisa bergerak sama sekali. Mau maju atau mundur, dak biso, jadi terpaksa bertahan di tengah macet,” sebutnya.

Warga Muaratembesi, Nasir, sudah pesimis dengan masalah kemacetan akibat angkutan batubara ini. Sejak membludaknya angkutan batubara, Nasir kesulitan berangkat kerja. “Jangankan kerjo, mengantar anak sekolah pun tidak biso,” kata Nasir.

Di sepanjang jalan dari Talangduku-Durianluncuk, tidak ada lagi anak-anak berangkat ke sekolah berjalan kaki atau bersepeda. Walau jarak menuju sekolah cukup dekat. Sebab, semua bagian jalan dipenuhi kendaraan.

Tidak ada ruang untuk pejalan kaki, pesepeda dan pemotor. Kata Nasir, tingkat kerawanan kecelakaan di sepanjang jalan itu juga sangat tinggi. “Entah sampai kapan kayak gini,” ujarnya sambil menggelengkan kepala.

Dia berharap pejabat pemerintah daerah ikut merasakan kemacetan sepanjang jalur batubara di daerah itu sehingga bisa mencari solusi nyata, bukan menjawab dengan retorika. 

Direktur LSM Sembilan Jamhuri menyindir pemerintah dengan mengatakan bahwa kemacetan adalah anugerah Allah yang wajib disyukuri. “Pemerintah tidak sanggup menyelesaikan kemacetan karena menerapkan konsep oligarki murni,” ujarnya.

Dia mengimbau pemerintah tidak beretorika. Dia menyayangkan kecenderungan sejumlah pihak melempar tanggung jawab. Seolah tanggung jawab pemerintah pusat, Pemprov atau Pemkab itu berbeda.

Padahal, Gubernur adalah wakil pemerintah pusat di daerah dan Bupati juga memiliki jalur koordinasi ke Gubernur. Rakyat yang diurus Bupati adalah rakyat yang sama yang diurus Gubernur dan pemerintah pusat.

Masalah utama adalah jumlah angkutan batubara yang tak seimbang dengan kapasitas jalan. Jumlah truk batubara yang hilir mudik dari pelabuhan ke mulut tambang di Sarolangun dan Batanghari diperkirakan sekitar 10.000 unit.

Polda Jambi sudah mendapat kabar soal kemacetan total pada Senin (21/11).  Direktur Lalu Lintas Polda Jambi Kombes Pol Dhafi mengatakan bahwa kemacetan terjadi karena jalan rusak.

“Memang dak mampu menampung kalau (jalan, red) masih rusak,” kata Dhafi. Katanya, Polda telah mendorong Pemprov Jambi memperbaiki sejumlah ruas jalan yang rusak. 

Personel Satlantas Polres Batanghari, kata dia, ikut memperbaiki jalan-jalan yang rusak. “Jadi tugas kita sudah merangkap Dinas PUPR sekarang,” kata Dhafi.


Penulis: Pratiwi Resti Amalia/Dedi Agusptiadi/Ikbal
Editor: Joni Rizal



comments