daerah

Jangan Biarkan Bonus Demografi Jambi Menjadi Bencana Sosial

Kamis, 16 April 2026 | 22:43 WIB
Revan Gunawan, S.H.,M.H. (Metrojambi.com)

Oleh : Revan Gunawan, S.H.,M.H.

Ada yang kontradiktif saat kita membicarakan masa depan Jambi di podium-podium formal. Di balik angka mentereng Badan Pusat Statistik yang mencatat hampir 69 persen penduduk kita berada di usia produktif, tersimpan kecemasan yang jarang diakui secara jujur.

Bonus demografi yang sering digadang-gadang sebagai tiket emas menuju kemajuan daerah justru terasa seperti fatamorgana jika kita melihat apa yang sebenarnya terjadi di meja-meja kopi dan layar ponsel anak muda kita hari ini.

Narasi Jambi Mantap mulai kehilangan taringnya, tergerus oleh realitas dekadensi mental yang diam-diam menjalar dan merusak etos kerja generasi muda.

Baca Juga: 7 Tahun Buron, DPO Penggelapan Bisnis Pinang Ditangkap Kejati Jambi 

​Masalah ini sebenarnya adalah bentuk nyata dari cultural lag atau ketertinggalan budaya sebagaimana yang pernah diperingatkan oleh sosiolog William Ogburn.

Teknologi di Jambi melesat bak roket dengan penetrasi internet yang sudah menembus angka 78 persen, namun kesiapan mental, budaya, dan regulasi kita justru merangkak tertatih di belakang. Terjadi kesenjangan yang mematikan dimana gawai yang harusnya menjadi alat produksi justru bermutasi menjadi kasino saku melalui fenomena judi online yang kian masif.

Ketertinggalan budaya ini membuat anak muda kita memiliki akses teknologi langit, namun tetap memelihara mentalitas spekulatif bumi yang sangat destruktif.

Baca Juga: Dinas PUPR Sarolangun Siapkan 10 Paket Pekerjaan Jalan di 2026

​Fenomena "scatter" dan berbagai varian judi daring bukan lagi sekadar isu moralitas pinggiran, melainkan sudah menjadi narkotika digital yang menyedot likuiditas warga Jambi secara sistematis.

Secara nasional, perputaran uang di sektor gelap ini sudah menembus ratusan triliun rupiah, dan Jambi ikut menyumbang angka yang tidak sedikit ke kantong bandar internasional.

Dampaknya pun mulai merembes ke urusan domestik, tren perceraian meningkat dan kriminalitas jalanan di Jambi kini sering kali dipicu oleh rasa frustrasi akibat kekalahan di layar ponsel. Ini adalah kebocoran ekonomi daerah yang nyata, di mana uang yang seharusnya berputar di pasar lokal justru menguap tanpa bekas ke luar negeri.

Baca Juga: Ribuan Warga Kerinci Urus Kartu Kuning, Mayoritas Ternyata Sudah Bekerja

​Sudahi saja retorika soal peremajaan pemuda kalau hanya menjadi pemanis pidato atau panggung seremoni tanpa keberanian membedah akar masalah. Kita sedang melihat bom waktu yang sedang berdetak: putra daerah perlahan tersisih dari persaingan kerja di sektor strategis seperti perkebunan atau pertambangan karena energi mereka habis digilas algoritma judi.

Halaman:

Tags

Terkini