daerah

Menjaga Asa Pendidikan Anak SAD di Pedalaman Jambi

Minggu, 12 April 2026 | 20:41 WIB
Kelompok Bermain Nur Ikhlas yang menampung pendidikan anak-anak SAD (metrojambi.com)

 

METROJAMBI.COM - Di Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Jambi, pendidikan tidak datang sebagai kemewahan yang mudah dijangkau.

Ia hadir sebagai perjuangan diam-diam, jauh dari pusat, dan kerap bergantung pada keteguhan segelintir orang yang memilih bertahan.

Di dua desa, Pematang Kabau dan Bukit Suban, anak-anak Suku Anak Dalam (SAD) menjalani hari-hari belajar dengan segala keterbatasan.

Di sinilah Ketua Yayasan Prakarsa Madani, Edi Endra, datang untuk melihat lebih dekat. Bagaimana sekolah berdiri, dan sejauh mana harapan masih bisa dijaga.

Ia mengunjungi SD 191/VII Pematang Kabau II dan KB Nurul Ikhlas SAD, dua ruang belajar sederhana yang menjadi pintu awal pendidikan bagi anak-anak komunitas adat tersebut.

Kunjungan itu diisi dengan percakapan panjang bersama para guru, menggali persoalan yang selama ini jarang terdengar keluar.

Dari ruang-ruang kelas itu, cerita yang muncul nyaris serupa, kekurangan tenaga pengajar, fasilitas yang terbatas, hingga kebutuhan dasar seperti seragam yang belum terpenuhi.

“Di dua desa ini ada sekitar 244 anak SAD yang sudah bersekolah dari PAUD sampai SMP. Ini kemajuan, tapi kita tidak boleh berhenti di angka itu,” kata Edi Endra.

Ia menegaskan, mempertahankan anak-anak tetap bersekolah bukan perkara mudah. Karena itu, sejumlah bantuan diberikan untuk mendorong mereka tetap datang ke kelas.

“Untuk anak PAUD ada bantuan makan atau uang jajan. Anak SD diberi Rp 5.000 per hari, dan SMP Rp 10.000. Ini bukan soal besar kecilnya, tapi bagaimana anak-anak ini tetap punya alasan untuk datang ke sekolah,” sampainya.

Bantuan tersebut, kata dia, berasal dari perusahaan sekitar, seperti PT SAL, TNBD, dan pihak lainnya. Namun Edi mengakui, dukungan itu belum cukup menjawab seluruh tantangan. Meski di tengah semua itu, harapan belum padam.

“Kalau kita semua tidak hadir, mereka bisa kembali ke hutan tanpa pernah mengenal pendidikan. Itu yang tidak kita inginkan,” tutupnya.

Di Desa Bukit Suban, kebutuhan itu terasa paling nyata. KB Nurul Ikhlas berdiri dengan segala keterbatasannya. Bangunannya sederhana, fasilitas minim, namun tetap menjadi tempat belajar bagi 45 anak SAD.

Halaman:

Tags

Terkini