Di dalamnya, satu orang guru menjalankan semuanya,Nurmualafiah.
Ia mengajar membaca, menulis, sekaligus menanamkan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan yang layak diperjuangkan. Namun di balik dedikasinya, ada kelelahan yang tak selalu terlihat.
“Kami sangat membutuhkan tambahan guru dan bantuan seragam untuk anak-anak,” katanya.
Permintaan itu mencerminkan kondisi yang lebih luas, pendidikan di wilayah terpencil masih berjalan dengan sumber daya minimum, jauh dari standar yang seharusnya.
Bagi anak-anak SAD, sekolah adalah ruang yang membuka kemungkinan baru. Namun kemungkinan itu masih rapuh, bergantung pada bantuan yang datang bertahap, dan pada individu-individu yang memilih tidak pergi.
Di Air Hitam, pendidikan belum sepenuhnya menjadi sistem yang kuat. Ia masih berupa upaya-upaya yang terpisah, bergerak di antara keterbatasan.