Minggu, 29 November 2020

Guru Honorer Pelaku Pencabulan Sempat Mau Nikahi Korban, Batal Karena Dimintai Uang Rp 100 Juta


Sabtu, 29 Agustus 2020 | 20:28:39 WIB


Anggota Satreskrim Polres Tanjabbar mengamankan seorang guru honorer yang dilaporkan melakukan pencabulan terhadap anak di bawah umur
Anggota Satreskrim Polres Tanjabbar mengamankan seorang guru honorer yang dilaporkan melakukan pencabulan terhadap anak di bawah umur / metrojambi.com

KUALATUNGKAL - A (31), guru honorer yang diamankan polisi terkait kasus pencabulan terhadap anak di bawah umur, sempat bermiat untuk menikahi korban. Namun rencana tersebut batal karena keluarga korban yang berinisial M (16), meminta uang Rp 100 juta.

AD, orang tua tersangka A saat dikonfirmasi mengatakan, awalnya sudah ada kesepakatan untuk dinikahkan, serta pemberian uang Rp 25 juta. Namun tiba-tiba kesepakatan berubah setelah orang tua korban meminta uang Rp 100 juta.

"Saya sudah ke rumah keluarga korban bersama anak saya. Waktu itu sepakat mau nikah. Malam itu kesepakatan 25 juta saya sanggupi. Tapi pas paginya berubah, keluarganya minta 100 juta. Kita tidak mampu," ujar AD kepada metrojambi.com.

AD juga mengaku tidak mengetahui jika korban sempat tinggal bersama anaknya di Betara. Bahkan AD mengatakan sempat beberapa kali mengunjungi kediaman anaknya, namun tidak pernah bertemu dengan korban.

Namun AD mengaku sempat curiga, karena menemukan tempat tidur di rumah anaknya dalam keadaan rusak. Ia sempat akan memperbaikinya, namun dilarang oleh anaknya yang mengatakan akan memperbaiki sendiri.

Lebih lanjut AD mengatakan, keberadaan korban di rumah anaknya baru diketahui setelah istrinya datang berkunjung. Saat itu, kata AD, sang istri langsung menghubungi dirinya memberitahukan mengenai keberadaan korban.

"Saat itu saya dan istri langsung membawa dia (korban, red) dan anak saya ke rumah saya. Sempat saya tanyai, mengapa tinggal serumah padahal bukan suami istri," ujar AD.

Ditambahkan AD, korban sempat menolak saat diminta untuk menghubungi keluarganya. Namun setelah didesak, korban akhirnya menghidupkan HP nya untuk menghubungi pihak keluarga.

"Jadi, selama dia (korban, red) di Betara, HP nya dimatikan," sebut AD.

Setelah menghunungi pihak keluarga, keesokan harinya korban diantar A ke Simpang Rimbo, Kota Jambi, untuk pulang ke Palembang.

"Saya kasih ongkos 150 ribu. Beberapa hari kemudian, barulah saya dan anak saya menyusul ke sana untuk membahas persoalan ini," pungkasnya.


Penulis: Eko
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments