METROJAMBI.COM – Baru beberapa bulan dilantik sebagai Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kerinci pada Februari 2026, Neneng Susanti langsung dihadapkan pada persoalan klasik yang tak kunjung tuntas, sampah.
Setiap hari, volume sampah di Kabupaten Kerinci mencapai sekitar 134 ton, dengan komposisi 60 persen sampah basah dan 40 persen sampah kering. Kondisi ini menjadikan persoalan sampah sebagai salah satu keluhan utama masyarakat.
Neneng Susanti menegaskan, penanganan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah semata, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
“Masalah sampah tidak bisa diselesaikan sendiri oleh pemerintah. Ini tanggung jawab bersama. Kalau kesadaran masyarakat meningkat, persoalan ini pasti jauh lebih ringan untuk ditangani,” ujarnya, Senin (13/4/2026).
Baca Juga: Anak Dihukum 19 Tahun Penjara, Orangtua Terdakwa Kasus 12 Kg Sabu Jatuh Pingsan di Ruang Sidang
Ia menambahkan, DLH berkomitmen memperkuat edukasi sekaligus mendorong aksi nyata di tengah masyarakat.
“Kami akan terus mengedukasi masyarakat agar terbiasa memilah dan mengolah sampah. Sampah itu bukan hanya untuk dibuang, tapi juga bisa punya nilai ekonomis jika dikelola dengan baik,” katanya.
Namun, upaya tersebut masih menghadapi tantangan, terutama rendahnya tingkat kesadaran masyarakat akibat minimnya sosialisasi.
Di sisi lain, beberapa program pengolahan sampah sebenarnya telah mulai berjalan, salah satunya di TPS3R Giri Mulyo, Kecamatan Kayu Aro, yang mengolah sampah menjadi pupuk kompos. Program ini bahkan telah bersinergi dengan sektor perkebunan dan perikanan.
Baca Juga: Menhaj Tegaskan 'War' Tiket Haji Masih Wacana, Jamaah Tak Perlu Takut
Saat ini, fasilitas pengelolaan sampah di Kabupaten Kerinci masih terbatas. Baru tersedia satu TPST di Kecamatan Bukit Kerman dan empat TPS3R. Sementara itu, armada pengangkut sampah baru mampu menjangkau 11 kecamatan, sedangkan lima kecamatan lainnya belum terlayani.
“Keterbatasan sarana ini menjadi tantangan besar bagi kami. Tapi kami tetap berupaya agar pelayanan bisa terus ditingkatkan secara bertahap,” ungkapnya.
Menurut Neneng, solusi jangka panjang yang paling dibutuhkan adalah pembangunan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang terintegrasi dengan TPST.
“Kerinci harus punya TPA. Nantinya, sampah dipilah dulu di TPST, lalu yang tidak bisa diolah baru dibuang ke TPA. Ini penting untuk sistem pengelolaan yang lebih baik,” jelasnya.
Baca Juga: Bupati Sarolangun Minta Konflik SAD dan PT SAL Diselesaikan Cepat